Koranindopos.com, Jakarta – Setelah hampir sepuluh tahun tidak merilis album penuh, grup musik pop legendaris Indonesia itu resmi mempersembahkan karya terbaru mereka bertajuk Love Hope & Reality. Album ke-14 ini diluncurkan dalam sebuah acara di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (28/8/2025).
Kehadiran album ini menjadi tonggak baru perjalanan ADA Band, sekaligus menegaskan bahwa eksistensi mereka di industri musik masih kuat. Dengan formasi segar, band ini kini diperkuat Naga sebagai vokalis, Dika di bass, Adhy pada drum, serta Marshal yang tetap berkontribusi meski kondisi kesehatannya tengah menurun.
Album Love Hope & Reality menjadi karya studio pertama bagi Naga sejak resmi bergabung pada 2020. Perjalanan panjang lima tahun akhirnya membuahkan hasil, meski prosesnya tidak lepas dari tantangan, termasuk pandemi yang sempat menghambat produksi. “Butuh proses cukup panjang lima tahun dari gue gabung ke ADA Band sampai akhirnya rilis ini,” ungkap Naga.
Makna filosofis album ini pun dijelaskan oleh Dika. Menurutnya, judul Love Hope & Reality adalah cerminan siklus kehidupan. “Itu sebenarnya bicara circle kehidupan sih. Yang cinta sejati kita tuh pasti pada akhirnya ke Tuhan. Terus ibu kita. Terus ntar balik lagi tuh, kita merasakan cinta lagi, hope lagi, jadi kehidupan tuh kayak gitu,” ujarnya.
Meski sempat vakum dari album penuh, ADA Band tetap aktif merilis beberapa single. Namun dalam album kali ini, mereka mencoba menghadirkan nuansa berbeda dengan sentuhan musik era 80-an tanpa meninggalkan jati diri.

“Kita coba hal baru yang belum pernah dilakukan, tapi tetap menjaga karakter ADA Band,” jelas Adhy di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (28/8/2025).
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah single utama Tak Semudah Itu. Lagu ini menjadi pemicu percepatan proses produksi album karena mendapat respon positif sejak pertama kali dibagikan. “Lagu Tak Semudah Itu boleh dibilang mentrigger album ini cepat selesai,” kata Naga.
Proses rekaman sendiri berlangsung sejak 2020. Meski terhambat pandemi, band ini tetap menjaga konsistensi dengan mengutamakan kualitas. Dika menegaskan prinsip mereka: “Prinsip kita rekaman nggak boleh ganggu jadwal manggung, manggung nggak boleh ganggu rekaman.” Hasilnya, album berisi sepuluh lagu ini rampung pada Juli 2025 setelah melalui tahap mixing dan mastering.
Di tengah momen penting ini, ADA Band juga harus menghadapi kenyataan bahwa Marshal, sang gitaris, tidak bisa hadir secara langsung karena kondisi kesehatan. Sejak awal 2024, ia menjalani perawatan intensif akibat gangguan fungsi ginjal. Meski begitu, kontribusinya tetap penuh melalui rekaman jarak jauh.
“Marshal nggak keluar, dan proses produksi di album ini dia kontribusi 100 persen juga,” tutur Naga.
Bagi Naga sendiri, bergabung dengan ADA Band bukan perjalanan mudah. Ia mengaku sempat merasa terbebani karena harus melanjutkan nama besar grup yang telah eksis sejak 1996. Namun dukungan dari personel lain membuatnya bisa beradaptasi. “Ada Band kan grup besar, fansnya besar. Tapi Mas Dika, Mas Adhy suportif, sama-sama lah,” ucapnya.
Menatap masa depan, ADA Band tengah merancang rencana besar menjelang usia ke-30 tahun perjalanan mereka di industri musik. Salah satu harapan yang digagas adalah menggelar konser reuni dengan melibatkan seluruh mantan personel.
“Harapannya bikin konser yang melibatkan semua personel, dari mulai Mas Baim, Mas Dony. Kan seru ya karena tiap mereka kan punya fans sendiri,” kata Naga.
Dengan semangat baru dan karya yang lebih variatif, ADA Band membuktikan diri masih relevan di tengah perubahan tren musik. Love Hope & Reality tidak hanya menjadi persembahan untuk penggemar lama, tapi juga ajakan untuk generasi baru agar kembali mengenal warna musik khas mereka. (Brg/Hend)










