Koranindopos.com, Jakarta – Pembukaan Dapur BerGizi di Jalan Sepat, Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Jumat (19/9), menjadi penanda penting dalam perjalanan program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG). Kehadirannya bukan hanya untuk memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan sehat, tetapi juga untuk memperkuat nilai inklusi sosial dengan melibatkan difabel sebagai tenaga penggerak.
Dr. Khairul Fidayati, S.Ant. M.Si., Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN), menegaskan bahwa pihaknya menyambut baik inisiatif ini. Ia menilai dapur tersebut akan menjadi pelengkap nyata dalam memperluas jangkauan MBG. “Kami dari BGN mengapresiasi pembukaan dapur ini yang akan operasional minggu depan,” ucapnya.
Apresiasi itu semakin kuat karena Dapur BerGizi melibatkan relawan dari kalangan difabel. Dr. Khairul menyebut bahwa langkah ini memberi dorongan positif bagi upaya pemberdayaan. “Apalagi di BGN ini mempekerjakan beberapa relawan dari kalangan difabel. Ini memberikan semangat, semoga dapat menginspirasi teman-teman untuk ikut diberdayakan dalam program makan bergizi gratis,” tambahnya.
Pemilik Dapur BerGizi, Qohariyah Rusyid, atau akrab disapa Riri, menjelaskan bahwa dapur yang ia kelola melibatkan lima relawan difabel secara aktif. Sebagian lainnya tersebar di unit dapur lain di bawah yayasan yang sama. Keterlibatan mereka bukan hal instan, melainkan hasil dari pelatihan intensif selama bertahun-tahun.
Riri menerangkan bahwa para relawan telah dibekali berbagai keterampilan dapur hingga barista. Menurutnya, yang terpenting adalah memberikan ruang bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan.

“Mereka itu sudah terlatih, tiap minggu kami mengadakan pelatihan selama beberapa tahun belakangan. Jadi terbiasa untuk menjadi kitchen staff, second cooking, barista, bahkan belajar desain foto. Yang penting mereka punya kesempatan berkarya,” tuturnya.
Pelibatan difabel ini sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi kontribusi sosial. Dengan pola pelatihan berkelanjutan, para relawan justru mampu bekerja sesuai standar yang ditetapkan. Hal ini membuat mereka menjadi bagian penting dari roda program MBG yang sedang digalakkan pemerintah.
Dapur BerGizi juga memiliki kapasitas besar, dengan kemampuan produksi mencapai 3.500 porsi makanan setiap hari. Hidangan ini kemudian disalurkan ke 12 sekolah di Jakarta Selatan, memastikan anak-anak mendapatkan gizi seimbang untuk mendukung tumbuh kembang mereka.
Bagi Riri, dapur ini bukan hanya sarana memasak, tetapi juga ladang berbagi. Ia menyebut bahwa semangat kebersamaan menjadi alasan kuat di balik inisiatif tersebut. “Awalnya memang ada rasa euforia, tapi juga sekalian berbagi. Semuanya biar bisa jadi keberkahan, memberi semangat untuk anak-anak sekolah. Program pemerintah ini harus didukung karena sangat bermanfaat bagi penerus bangsa,” jelasnya.
Aspek higienitas menjadi prioritas dalam pengelolaan dapur. Dr. Khairul Fidayati menegaskan bahwa prosedur dapur sudah dirancang sesuai standar, mulai dari pemisahan area pengemasan, loading barang, hingga pencucian peralatan. Hal ini dilakukan agar makanan yang didistribusikan aman dikonsumsi.
Riri menambahkan bahwa pengawasan ketat dilakukan untuk mencegah risiko keracunan makanan. Ia menekankan bahwa seluruh bahan, baik ikan maupun sayuran, dipantau sejak tahap awal hingga penyimpanan.
“Untuk menghindari risiko keracunan, pengawasan lebih ketat dilakukan. Mulai dari kebersihan ikan, sayur, hingga pengaturan waktu penyimpanan agar makanan tidak basi. Dari pihak BGN menurunkan tim kontrol dan ahli gizi untuk memastikan dapur berjalan sesuai standar,” pungkasnya. (Brg/kul)










