Koranindopos.com, Jakarta – Musik sejak lama menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Indonesia. Alunan nada hadir di setiap pesta rakyat hingga pusat perbelanjaan modern. Di mal, musik bukan sekadar hiburan, melainkan membangun suasana yang nyaman dan memperpanjang waktu kunjungan pengunjung.
Namun, bagi para pengelola pusat belanja, muncul kekhawatiran seputar legalitas pemutaran lagu, mekanisme pembayaran royalti, hingga kepastian hak pencipta musik.
Keresahan tersebut kini terjawab. Bertempat di Hotel Sultan Jakarta, Velodiva menandatangani perjanjian kerja sama strategis dengan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI). Langkah ini menjadi tonggak penting dalam tata kelola musik di ruang publik, di mana ratusan mal di seluruh Indonesia kini memiliki sistem resmi yang patuh Undang-Undang Hak Cipta.
Velodiva menghadirkan teknologi pencatatan otomatis yang memastikan setiap lagu terekam dengan detail. Laporan yang dihasilkan bersifat transparan dan langsung mengalirkan royalti kepada para pencipta musik. Bagi musisi, hal ini adalah bentuk penghargaan nyata. Sementara bagi pemilik usaha, sistem ini memberikan kepastian hukum serta ketenangan dalam menjalankan bisnis.
Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, menyebut kerja sama ini membawa perubahan besar. “Pusat belanja adalah wajah modern Indonesia. Kami harus memastikan setiap operasional berjalan sesuai hukum, termasuk penggunaan musik. Dengan Velodiva, anggota APPBI bisa lebih tenang karena semua proses tercatat jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini praktik bisnis yang sehat, adil, dan membanggakan,” ujarnya usai penandatanganan kerjasama di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (29/9/2025).

CEO Velodiva, Vedy Eriyanto, menegaskan kehadiran sistem ini tidak hanya soal teknologi, tetapi juga upaya membangun ekosistem musik yang berkelanjutan. Menurutnya, Velodiva adalah jembatan antara pemilik usaha dan pencipta lagu, sehingga kedua belah pihak sama-sama terlindungi. “Velodiva hadir sebagai jembatan antara pemilik usaha dan pencipta lagu. Musik di ruang publik kini tidak lagi menimbulkan keraguan. Semua pihak diuntungkan: pengusaha tenang, pencipta musik terlindungi,” jelasnya.
Dari sisi nasionalisme, Velodiva menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menghadirkan solusi teknologi yang setara dengan standar global. Sistem ini tidak hanya memudahkan pengguna, tetapi juga relevan dengan kebutuhan lokal.
“Velodiva adalah bukti bahwa teknologi Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional dan memahami kebutuhan lokal. Dari Indonesia, untuk Indonesia. Inilah semangat merah putih dalam praktik nyata,” kata Vedy.
Dukungan atas kerja sama ini juga datang dari Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekraf). Ketua Umum Gekraf, Kawendra Lukistian, menyebut langkah tersebut menumbuhkan optimisme baru bagi para pencipta musik. “Komposer juga, tapi kita semua pencipta lagu punya harapan transparansi itu adalah hal yang sebuah keharusan. Dan apalagi kalau misalnya memang reportingnya bisa real time, itu akan menjadi kebahagiaan,” ungkapnya.
Wakil Ketua Umum DPP APPBI, Sugwantono Tanto, menambahkan bahwa APPBI sejak lama berkomitmen menghargai hak cipta musik. Namun sering kali masalah muncul karena pendistribusian royalti tidak transparan. “Jadi jangan sampai kita yang sudah melakukan kewajiban dengan benar, tiba-tiba ditagih lagi oleh pihak lain. Dengan adanya Velodiva ini semuanya jadi jelas karena pemakaiannya transparan nantinya,” katanya.
Lebih jauh, Vedy Eriyanto menjelaskan rencana pengembangan Velodiva. Selain pusat belanja, sistem ini akan merambah sektor lain seperti hotel, restoran, dan kafe. Bahkan, Velodiva tengah menyiapkan aplikasi khusus bernama Velo Stage untuk mencatat pemutaran musik di acara live performance. Langkah ini akan memperkuat Sistem Manajemen Royalti (SMR) yang transparan dan terintegrasi.
Kerja sama APPBI dan Velodiva menandai era baru tata kelola musik di ruang publik Indonesia. Musik kini tidak lagi menjadi sumber kecemasan, melainkan kebanggaan. Pencipta lagu memperoleh haknya secara adil, sementara pemilik usaha terlindungi. Lebih dari itu, industri kreatif Indonesia bergerak menuju ekosistem yang sehat, transparan, dan berkelanjutan.(Brg/kul)










