Koranindopos.com, Jakarta – Film horor Penunggu Rumah: Buto Ijo siap menghadirkan sosok folklor legendaris Indonesia dalam versi live action yang lebih nyata dan menyeramkan. Melalui pendekatan praktikal yang serius, film ini mencoba menghidupkan kembali Buto Ijo dengan visual yang dekat dengan imajinasi publik, namun tetap relevan bagi penonton masa kini.
Produksi film ini melibatkan tim prostetik berpengalaman yang sebelumnya menangani berbagai film horor Indonesia. Mereka bertanggung jawab menciptakan kostum Buto Ijo full body yang dilapisi prostetik hampir di seluruh tubuh aktor, demi menghadirkan karakter yang terasa hidup di layar lebar.
Aktor Pratito Wibowo dipercaya memerankan Buto Ijo. Namun, proses tersebut bukan tanpa risiko. Kostum yang digunakan sangat berat, lengket, dan minim sirkulasi udara, sehingga membatasi waktu pengambilan gambar dalam setiap sesi demi menjaga kondisi fisik pemeran utama karakter tersebut.
Dalam praktiknya, kostum Buto Ijo hanya bisa dikenakan selama satu hingga dua kali pengambilan gambar sebelum harus dilepas. Meski proses syuting dilakukan di studio berpendingin udara, panas tetap terperangkap di dalam kostum dan membuat tubuh aktor basah kuyup.
“Kami benar-benar harus ekstra hati-hati. Keselamatan aktor jadi prioritas. Kalau dipaksakan, apalagi di lokasi outdoor atau ruangan tanpa AC, risikonya terlalu besar,” ungkap Gandhi Fernando selaku aktor, produser, dan penulis film ini.

Tantangan tidak hanya datang dari sisi teknis, tetapi juga dari desain karakter. Buto Ijo selama ini dikenal sebagai figur dongeng yang kerap divisualisasikan secara kartunis. Tim produksi harus memastikan tampilan film tidak terjebak pada kesan lucu, namun juga tidak berubah menjadi monster yang kehilangan identitas folklornya.
“Kita cari titik tengah. Harus tetap seram, tapi penonton masih merasa: ini Buto Ijo yang mereka kenal,” jelas Gandhi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, film ini mengandalkan practical effect sebagai pendekatan utama. Efek digital hanya digunakan secara terbatas, terutama pada bagian mata. Warna merah pada mata Buto Ijo dirancang agar terlihat hidup dan mengintimidasi tanpa terasa berlebihan.
Pendekatan ini dipilih agar horor yang dihadirkan terasa lebih membumi dan dekat dengan penonton. Dengan meminimalkan penggunaan CGI, Penunggu Rumah: Buto Ijo berupaya menghadirkan ketegangan yang lahir dari visual nyata dan performa aktor di depan kamera.
Penunggu Rumah: Buto Ijo dijadwalkan tayang di bioskop-bioskop pilihan mulai 15 Januari 2026. Film ini diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah horor nasional, tetapi juga membuka jalan bagi eksplorasi karakter-karakter folklor Indonesia lainnya di masa depan. (Brg/Kul)










