koranindopos.com, JAKARTA – Kuliner Indonesia selalu menyimpan cerita yang lebih dalam dari sekadar rasa. Di balik setiap hidangan, tersimpan jejak perjalanan budaya, pertemuan peradaban, hingga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Semangat inilah yang kembali dihadirkan melalui webseries Kuliner Indonesia Kaya yang sejak 2017 konsisten mendokumentasikan kekayaan kuliner Nusantara dalam format audio visual.
Pada tahun 2026, program yang diinisiasi oleh Indonesia Kaya ini mengajak penonton menjelajahi tiga kota dengan warisan kuliner yang kuat: Ternate, Palembang, dan Banten. Ketiganya memiliki sejarah panjang yang membentuk identitas kuliner khas, sekaligus mencerminkan dinamika perjalanan budaya di Indonesia.
Program Director Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, menjelaskan bahwa melalui Kuliner Indonesia Kaya, masyarakat diajak melihat kuliner tidak hanya sebagai hidangan lezat, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya yang sarat makna.
Perjalanan dimulai dari Ternate, sebuah pulau yang pernah menjadi titik penting dalam Jalur Rempah. Di tempat ini, kuliner berkembang dari hubungan yang erat antara manusia dan alam. Salah satu tradisi yang diangkat adalah Rimo-rimo, metode memasak yang unik karena dilakukan tanpa peralatan dapur. Masyarakat memanfaatkan bambu sebagai wadah alami untuk memasak berbagai bahan seperti daging, ayam, sayur lilin, hingga umbi-umbian.
Selain itu, Ternate juga dikenal dengan hidangan Gohu Ikan, sajian laut yang menonjolkan kesegaran bahan. Ikan tuna atau cakalang dipotong kecil lalu diberi garam, perasan lemon cui, serta daun kemangi. Proses yang sederhana ini justru menegaskan kedekatan masyarakat dengan alam dan kekayaan laut yang melimpah.
Perjalanan rasa kemudian berlanjut ke Palembang, kota tua yang kehidupannya tak terpisahkan dari Sungai Musi. Di sini, kuliner menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat. Salah satu yang paling dikenal adalah Pindang Ikan, hidangan berkuah dengan cita rasa asam pedas segar yang biasanya menggunakan ikan patin, gabus, atau baung.
Palembang juga memiliki warisan kue tradisional yang sarat makna. Kue Delapan Jam misalnya, dimasak selama delapan jam hingga menghasilkan tekstur lembut dan warna cokelat keemasan. Sementara Kue Maksuba dikenal sebagai kue berlapis yang kerap hadir dalam perayaan besar maupun tradisi pernikahan. Proses pembuatannya yang rumit dan penuh ketelitian menjadikannya simbol kesabaran serta kecermatan dalam budaya masyarakat Palembang.
Episode berikutnya membawa penonton menuju Banten, daerah yang memiliki jejak kuat dari masa Kesultanan Banten. Salah satu hidangan ikoniknya adalah Sate Bandeng, yang konon merupakan hidangan favorit Sultan Maulana Hasanuddin. Hidangan ini lahir dari kreativitas juru masak keraton yang mengolah bandeng tanpa duri sebagai bentuk penghormatan kepada tamu kerajaan.
Banten juga memiliki Rabeg, hidangan berbahan daging kambing atau sapi yang dipercaya terinspirasi dari pengalaman Sultan saat menunaikan ibadah haji dan singgah di Kota Rabig di tepi Laut Merah. Kisah lain menyebutkan bahwa hidangan ini diperkenalkan oleh pedagang Arab yang kemudian berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Melalui rangkaian kisah ini, Kuliner Indonesia Kaya menghadirkan kuliner sebagai lebih dari sekadar sajian di meja makan. Ia menjadi jendela untuk memahami sejarah, tradisi, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.
Karena pada akhirnya, setiap rasa yang kita nikmati tidak pernah berdiri sendiri. Di dalamnya selalu tersimpan cerita panjang tentang perjalanan budaya, identitas daerah, dan warisan yang terus hidup dari masa ke masa. (rls/sh)










