JAKARTA, koranindopos.com–Koordinator Dokter Kontingen DKI di PON Papua 2021 Junaidi menyatakan, ada limaatlet DKI terpapar Covid-19.
Kelima atlet tersebar di Timika dan Jayapura. Perinciannya, tiga orang di Timika dan dua orang di Jayapura. Bahkan, mereka disebut memiliki cycle threshold (CT) value rendah. Lantaran cukup rendah, kasus tersebut dicurigai sebagai varian baru.
Junaidi menuturkan, dari perawat yang menangani kasus Covid-19, kasus CT terendah dari atlet tersebut bernilai belasan. Lantaran cukup rendah, pihaknya akan memeriksanya apakah tergolong varian baru atau tidak dengan pemeriksaan whole genome sequencing. ’’Iya, kalau rendah, itu diperiksa (whole genome sequencing). Dikhawatirkan varian baru,’’ terang Junaidi.
Meski CT value belasan, dia menyebutkan, kondisi atlet-atlet yang terpapar Covid-19 tersebut baik. ’’Nggak ada yang parah, OTG (orang tanpa gejala) atau gejala ringan,’’ tambahnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria menuturkan, sebelum melepas para atlet, DKI lebih dulu melaksanakan 3T, vaksin, hingga tes PCR. ’’Jadi, sehat ya. Sampai di sana, ternyata atlet kami terpapar Covid-19. Ada lima atlet kami,’’ terangnya. Terkait kecurigaan terpapar varian baru atau tidak, pihaknya masih menunggu informasi dari tim kesehatan di Papua.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia menuturkan, Dinkes DKI sedang mendalami informasi soal kasus tersebut secara detail. Namun, dari informasi yang didapatkannya, para atlet yang terpapar itu sudah diisolasi di RS di sana. Para atlet yang sudah kembali ke Jakarta juga diimbau untuk menjaga jarak dan melakukan tes PCR di Jakarta.
’’Untuk yang sudah pulang, kami sedang berkoordinasi dengan KONI DKI. Prinsipnya sama saja ketika kami menemukan kasus baru. Pasti kontak erat di-tracing, lalu dihubungi (kalau positif), dan dipantau,’’ terangnya.
Terkait varian baru atau tidak, dia menyebutkan, yang paling penting adalah isolasi. ’’Mau varian apa pun, intervensi awal sama saja. Yang penting adalah isolasi,’’ tambahnya.
Dwi menyebutkan, ada beberapa kriteria agar suatu kasus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS). Salah satunya, ketika sudah divaksin, orang terinfeksi. Lalu, menularkan dalam kelompok besar, memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri, atau kasus pada anak-anak. ’’Sampel itu biasanya dikirim untuk pemeriksaan genome sequencing agar mengetahui variannya,’’ jelasnya. Namun, dia menjelaskan, pemeriksaan WGS itu bukan hasil darurat, melainkan pemetaan virus. (fri/brg)










