koranindopos.com – Jakarta. Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait insiden keracunan yang dialami puluhan siswa akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Pondok Kelapa.
Peristiwa tersebut melibatkan sedikitnya 72 siswa dari empat sekolah yang mengalami gejala gangguan kesehatan seperti sakit perut, diare, dan mual setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Menurut Benjamin, yang akrab disapa Benny, penyebab utama insiden diduga berasal dari celah dalam proses pembuatan makanan. Ia menyoroti lamanya waktu pengolahan yang berpotensi memengaruhi kualitas dan keamanan makanan.
“Ternyata proses pembuatannya lama sehingga terjadi insiden, peristiwa itu,” ujar Benny saat ditemui di Gedung Adhyatma, Kementerian Kesehatan RI, Senin (6/4/2026).
Para siswa yang terdampak saat ini mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya RSKD Duren Sawit, RSKD Pondok Kopi, serta Rumah Sakit Harum.
Pihak Kementerian Kesehatan memastikan bahwa kondisi para korban kini berangsur membaik setelah mendapatkan penanganan medis intensif.
Insiden ini menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya dalam pelaksanaan program MBG yang bertujuan meningkatkan asupan gizi bagi pelajar. Wamenkes menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh, terutama pada aspek pengolahan, distribusi, dan penyajian makanan.
Pengawasan ketat dinilai perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Standar keamanan pangan, termasuk durasi penyimpanan dan kebersihan proses produksi, menjadi faktor krusial yang harus dipenuhi oleh seluruh pihak penyelenggara.
Kasus ini juga menjadi pengingat akan pentingnya penerapan prinsip keamanan pangan, khususnya dalam program berskala besar seperti MBG. Kualitas bahan, higienitas dapur, serta waktu distribusi harus dikelola secara profesional untuk menjamin makanan tetap aman dikonsumsi.
Pemerintah diharapkan dapat memperkuat sistem pengawasan serta memberikan pelatihan kepada pihak penyedia makanan agar standar kesehatan tetap terjaga.
Melalui evaluasi menyeluruh dan peningkatan pengawasan, program Makan Bergizi Gratis diharapkan tetap dapat berjalan optimal tanpa mengorbankan aspek keselamatan peserta didik.(dhil)










