Koranindopos.com, JAKARTA-Liburan di Citadelle Laferriere berubah menjadi tragedi. Sebanyak 30 orang tewas dalam insiden desak-desakan di benteng bersejarah di Haiti utara itu. Dikutip dari Independent pada Minggu (12/4/2026), otoritas setempat bahkan menyebut jumlah korban jiwa berpotensi masih bertambah.
Peristiwa tragis itu terjadi pada Sabtu di Citadelle Laferrière, benteng bersejarah yang dibangun pada awal abad ke-19 yang melambangkan kemerdekaan dan ketahanan bangsa, dibangun oleh Raja Henri Christopher itu.
Kepala Perlindungan Sipil Departemen Nord, Jean Henri Petit, mengatakan benteng, yang merupakan situs Warisan Dunia UNESCO di puncak Gunung Bonnet a l’Eveque, sekitar 900 meter di atas permukaan laut, di Milot itu, sedang dipadati pengunjung. Di antara pengunjung terdapat rombongan pelajar.
Perdana Menteri Haiti, Alix Didier Fils-Aimé, menyampaikan duka mendalam atas tragedi tersebut. Dia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan menyatakan solidaritas di tengah masa berkabung. Dalam pernyataannya, dia juga menyinggung banyaknya pelajar yang hadir di sana. Namun, dia tidak merinci jumlah korban terbaru maupun identitas para korban.
Menurut Petit, insiden desak-desakan terjadi di pintu masuk benteng. Saat itu, hujan sedang turun dan membuat situasi semakin parah. Tragedi itu terjadi di tengah kondisi Haiti yang masih dilanda berbagai krisis, termasuk kekerasan geng yang menelan banyak korban sipil serta operasi keamanan yang semakin intensif.
Dalam beberapa tahun terakhir, Haiti juga mengalami sejumlah bencana besar, mulai dari ledakan tangki bahan bakar pada 2024 yang menewaskan puluhan orang, insiden serupa pada 2021 yang menewaskan sekitar 90 orang, hingga gempa bumi pada tahun yang sama yang merenggut sekitar 2.000 jiwa. (dtk/mmr)










