Koranindopos.com, Jakarta – Aktris Annette Edoarda mengaku memiliki pengalaman berkesan selama menjalani proses syuting film Songko. Salah satu momen yang paling ia ingat adalah saat hari terakhir pengambilan gambar, ketika ia dan para pemain lain tidak kuasa menahan haru.
Dalam film garapan sutradara Gerald Mamahit tersebut, Annette memerankan tokoh Mikha, seorang gadis desa berusia 17 tahun. Padahal, usia asli Annette saat ini 26 tahun. Perbedaan usia tersebut menjadi tantangan tersendiri yang harus ia atasi melalui pendalaman karakter, termasuk menyesuaikan suara dan cara berpikir tokoh.
Peran Mikha didapat Annette setelah mendapat tawaran langsung dari tim produksi. Ia mengaku tertarik sejak pertama kali membaca naskah, terlebih karena latar cerita yang dekat dengan kehidupannya. Annette diketahui lahir dan besar di Manado, sehingga cukup familiar dengan cerita tentang sosok Songko.
“Kami ketemu di tempat makan terus ditawari, ‘Kita ada cerita nih tentang Songko.’ Aku lahir dan besar di Manado. Jadi cukup tahu tentang creature Songko. Aku tahu itu ada, tapi enggak pernah melihat langsung secara nyata di depan mataku,” kata Annette.
Proses syuting yang berlangsung dengan suasana akrab juga meninggalkan kesan mendalam. Annette menyebut hubungan antar pemain terasa seperti keluarga, sehingga perpisahan di akhir produksi menjadi momen yang emosional.
“Dan kamu tahu enggak fun fact-nya? Mungkin ini salah satu film yang di saat wrap, aku benar-benar menangis, kita semua menangis. Kayak aduh jangan dulu selesai, enggak mau, dan setelah itu pun sampai sekarang kita semua jadi makin dekat,” ujarnya.
Film ini juga dibintangi oleh Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satrya, dan Khiva Iskak. Menurut Annette, kerja sama antar pemain menjadi salah satu faktor yang membuat proses syuting terasa menyenangkan.
Di sisi lain, Imelda Therinne mengungkapkan bahwa film ini tetap memiliki tantangan, terutama dalam penggunaan bahasa daerah. Sebagian besar dialog dalam film menggunakan bahasa Manado.
“Mungkin challenge-nya aku belajar banyak di sini. Bahasa 80 persen bahasa Manado, ya! Ternyata memang bahasa tuh susah-susah gampang. Cuma karena banyak cece Manado di sini membantu sekali,” kata Imelda.
Selain bahasa, kondisi cuaca di lokasi syuting juga menjadi kendala. Para pemain harus menghadapi suhu dingin yang cukup ekstrem, meski di sisi lain lokasi tersebut menawarkan pemandangan yang menarik.

“Tantangan lain, cuaca berat banget kayak kita lagi syuting di luar negeri. Dingin banget. Cuma pay off pemandangannya indah banget. Semoga ke-capture di film. Mudah-mudahan ini bisa memberi angin segar ke dunia perfilman Indonesia,” lanjutnya.
Secara cerita, Songko mengangkat kisah teror di sebuah desa di Tomohon. Sejumlah perempuan muda ditemukan meninggal secara misterius, yang kemudian memicu ketakutan di tengah masyarakat. Warga menduga kemunculan makhluk bernama Songko menjadi penyebab kejadian tersebut.
Ketegangan dalam cerita berkembang menjadi saling curiga antarwarga. Situasi semakin memanas ketika tuduhan mengarah pada keluarga Mikha, termasuk ibu tirinya, Helsye, yang diduga terlibat dalam kemunculan makhluk tersebut.
Film Songko dijadwalkan tayang di bioskop mulai 23 April 2026. Annette menyebut film ini tidak hanya menghadirkan ketegangan, tetapi juga menggambarkan dinamika sosial di masyarakat saat menghadapi ketakutan yang tidak mereka pahami.
“Film ini membahas ketakutan, tuduhan, dan bagaimana desa bisa terpecah karena teror yang tak dipahami warga. Cerita Songko terasa emosional sekaligus mencekam,” kata Annette. (BRG/Kul)










