Berdasarkan data terbaru dari pemerintah Jepang, jumlah perjalanan internasional saat ini baru mencapai sedikit di atas 70% dibandingkan periode sebelum pandemi. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 14,73 juta perjalanan ke luar negeri dilakukan oleh warga Jepang. Angka ini menunjukkan adanya pemulihan, namun masih cukup jauh dari capaian sebelum krisis kesehatan global melanda.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2019—sebelum pandemi—jumlah perjalanan luar negeri warga Jepang mencapai rekor 20,08 juta perjalanan. Saat itu, mobilitas internasional berada pada مستوى yang sangat tinggi, didukung oleh kondisi ekonomi global yang relatif stabil dan nilai tukar yang lebih menguntungkan.
Pemerintah Jepang sebelumnya menargetkan agar jumlah perjalanan tersebut dapat kembali melampaui angka pra-pandemi pada tahun 2025. Namun, melihat berbagai tantangan yang ada, target tersebut akhirnya direvisi. Pelemahan yen menjadi salah satu faktor utama yang membuat biaya perjalanan ke luar negeri terasa lebih mahal bagi warga Jepang. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar penerbangan (avtur) juga berdampak pada mahalnya tiket pesawat.
Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi global serta perubahan preferensi wisata pasca-pandemi turut memengaruhi keputusan masyarakat. Banyak warga kini lebih berhati-hati dalam mengalokasikan pengeluaran, termasuk untuk perjalanan internasional.
Meski demikian, tren pemulihan tetap terlihat secara bertahap. Dengan membaiknya kondisi global dan potensi stabilisasi ekonomi di masa mendatang, peluang untuk kembali ke مستوى perjalanan sebelum pandemi masih terbuka. Pemerintah Jepang pun terus memantau perkembangan ini sambil menyesuaikan kebijakan yang dapat mendorong sektor pariwisata keluar negeri kembali bergairah.(dhil)










