Sabtu, 27 Juni 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Olahraga
  • Opini
  • More
Home Opini

Pendidikan Bermutu untuk Semua bukan Sekadar Sekolah

Editor : Anggoro oleh Editor : Anggoro
5 Mei 2026
in Opini
A A
0
Pendidikan Bermutu untuk Semua bukan Sekadar Sekolah

Ali Saukah Anggota Dewan Pendidikan Nasional periode 2026-2031 dan Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Share on FacebookShare on Twitter

Koranindopos.com – Kita mungkin merasa pendidikan berjalan baik-baik saja. Sekolah tetap buka. Siswa hadir. Guru mengajar. Ujian dilaksanakan. Ijazah dibagikan. Namun, satu pertanyaan mendasar jarang diajukan secara jujur: apakah siswa benar-benar belajar? Sindiran Bank Dunia beberapa tahun lalu—“schooling without learning”—seharusnya tidak kita abaikan. Jangan-jangan, yang kita jalankan selama ini memang lebih banyak persekolahan daripada pembelajaran. Anak hadir secara fisik, tetapi tidak tumbuh secara intelektual. Mereka naik kelas, tetapi tidak selalu naik kemampuan.

Situasi ini menjadi lebih rumit ketika dunia menghadapi krisis energi dan disrupsi digital sekaligus. Biaya listrik naik. Transportasi mahal. Operasional sekolah ikut terdampak. Dalam kondisi seperti ini, wacana efisiensi muncul, dan pembelajaran daring dianggap sebagai solusi cepat. Pengalaman pandemi memperkuat keyakinan itu. Tanpa harus ke sekolah, proses belajar tetap berjalan. Mobilitas berkurang. Biaya bisa ditekan. Dari sisi energi, masuk akal, tetapi pendidikan tidak bisa dilihat hanya dari sisi efisiensi.

Jika kita bicara “pendidikan bermutu untuk semua”, ada tiga hal yang tidak boleh diabaikan. Pertama, akses: semua anak harus bisa bersekolah. Kedua, hasil belajar: mereka harus menguasai literasi, numerasi, dan kemampuan berpikir kritis. Ketiga, keadilan: kesenjangan antarwilayah dan antarkelompok harus diperkecil. Masalahnya, pembelajaran daring tidak otomatis memenuhi ketiganya.

Memang, dari sisi akses, teknologi membuka peluang besar. Materi bisa diakses dari mana saja. Sumber belajar tidak lagi terbatas. Tetapi realitas di lapangan berbicara lain. Tidak semua siswa punya gawai. Tidak semua wilayah memiliki internet stabil. Tidak semua rumah menyediakan ruang belajar yang layak. Bahkan, dalam satu kelas yang sama, kualitas akses bisa sangat timpang. Akibatnya jelas. Siswa yang sudah kuat akan semakin melaju. Yang lemah semakin tertinggal. Teknologi, yang seharusnya menjadi jembatan, justru bisa berubah menjadi jurang.

Artikel Terkait

Peran Generasi Muda dalam Memodernisasi Pertanian di Era Digital

Dampak dan Upaya Mengatasi Praktik Ijon yang Merugikan Petani

Perlukah TKA untuk Pembelajaran Mendalam?

Di sisi lain, mutu pembelajaran juga terancam. Pendidikan bukan sekadar menyampaikan materi. Pendidikan membentuk karakter, disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama. Semua itu tumbuh dari interaksi langsung: dari tatap muka, dari dinamika kelas, dan dari relasi sosial yang nyata. Jika pembelajaran terlalu lama bergantung pada layar, kita berisiko kehilangan inti pendidikan itu sendiri. Kelas berubah menjadi sekadar ruang distribusi tugas, bukan ruang tumbuhnya makna. Guru berisiko tereduksi menjadi penyampai materi, bukan pendidik yang membimbing dan menginspirasi. Siswa pun bisa kehilangan arah, belajar tanpa keterlibatan yang utuh.

Masalah belum berhenti di situ. Penggunaan teknologi digital yang tidak terkendali juga membawa dampak serius. Anak-anak terpapar distraksi tanpa batas. Media sosial menggerus fokus belajar. Kecanduan gawai meningkat. Bahkan, kesehatan mental ikut terpengaruh. Dalam konteks ini, kebijakan pembatasan akses terhadap aplikasi tertentu melalui SKB 7 Menteri sering disalahpahami. Ada yang menganggapnya anti-teknologi. Padahal, justru sebaliknya. Ini adalah upaya melindungi anak agar teknologi tidak menjadi boomerang: agar teknologi tetap menjadi alat belajar, bukan sumber masalah baru. Jadi, persoalannya bukan memilih daring atau luring. Itu perdebatan yang keliru. Yang kita butuhkan adalah keseimbangan yang dirancang dengan sadar dan berbasis pada kebutuhan belajar siswa, bukan sekadar pertimbangan teknis.

Di banyak negara, pendekatan blended learning mulai menjadi pilihan. Tatap muka tetap menjadi inti. Di sanalah karakter dibangun, interaksi terjadi, dan nilai-nilai ditanamkan. Sementara itu, pembelajaran daring digunakan untuk melengkapi: memberi fleksibilitas, memperkaya materi, dan meningkatkan efisiensi. Pendekatan ini lebih realistis. Tidak menolak teknologi, tetapi juga tidak menyerah sepenuhnya padanya. Lebih penting lagi, pendekatan ini memberi ruang bagi kebijakan untuk memastikan bahwa efisiensi tidak mengorbankan keadilan.

Namun, model apa pun yang dipilih, pertanyaan utamanya tetap sama: apakah siswa benar-benar belajar? Apakah mereka mampu memahami, bukan sekadar menghafal? Apakah mereka bisa berpikir, bukan hanya menjawab soal? Apakah kesenjangan makin mengecil, atau justru melebar tanpa kita sadari? Jika jawabannya belum memuaskan, maka kita harus berani mengakui: kita masih berada dalam jebakan schooling without learning.

Krisis energi dan disrupsi digital seharusnya menjadi momentum, bukan alasan. Momentum untuk memperbaiki arah. Momentum untuk menata ulang prioritas: bahwa pendidikan bukan sekadar sistem yang berjalan, tetapi proses yang harus menghasilkan perubahan nyata pada diri peserta didik. Di sinilah pentingnya pembelajaran mendalam (deep learning). Pembelajaran yang tidak berhenti pada pengetahuan permukaan, tetapi mendorong pemahaman, keterkaitan, dan kemampuan menerapkan dalam kehidupan nyata. Pendidikan bermutu untuk semua tidak diukur dari ramainya sekolah, tetapi dari terwujudnya pembelajaran. Jika kelas tetap penuh tetapi pikiran kosong, jika ijazah bertambah tetapi kemampuan stagnan, maka yang kita rayakan bukan kemajuan, melainkan ilusi.

 

Penulis: Ali Saukah (Anggota Dewan Pendidikan Nasional periode 2026-2031 dan Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur)

 

Topik: Ali Saukahdewan pendidikan nasionalUMKT

TerkaitBerita

Memodernisasi Pertanian
Opini

Peran Generasi Muda dalam Memodernisasi Pertanian di Era Digital

oleh Editor : Anggoro
18 Juni 2026
Dampak dan Upaya Mengatasi Praktik Ijon yang Merugikan Petani
Opini

Dampak dan Upaya Mengatasi Praktik Ijon yang Merugikan Petani

oleh Editor : Anggoro
16 Juni 2026
Perlukah TKA untuk Pembelajaran Mendalam?
Opini

Perlukah TKA untuk Pembelajaran Mendalam?

oleh Editor : Anggoro
3 Juni 2026
PERKUAT KELUARGA: Dari kiri, Bendahara Umum Sari Yuliati, Ketum Golkar Bahlil Lahadalia, dan Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Adies Kadir dalam satu momentum kegiatan partai. (Foto Ilustrasi: memoindonsia.co.id)
Opini

Fakta di Balik Program ”Stimulan” Perumahan Swadaya

oleh Editor : Memoarto
11 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bank Jakarta

Direkomendasikan

Suarakan Bahaya Narkoba Lewat Rock, Adnan Ndy Rilis Single ‘Akhirku’ di Hari Anti-Narkotika Internasional

Suarakan Bahaya Narkoba Lewat Rock, Adnan Ndy Rilis Single ‘Akhirku’ di Hari Anti-Narkotika Internasional

27 Juni 2026
Asa Baru Difabel Brebes: Mandiri dan Tembus Dunia Kerja Lewat Vokasi Menjahit Sepatu

Asa Baru Difabel Brebes: Mandiri dan Tembus Dunia Kerja Lewat Vokasi Menjahit Sepatu

27 Juni 2026
Main Film CLBK, Sintya Marisca Terpikat Sifat ‘Bapak-Bapak’ Khiva Iskak Saat Bangun Chemistry

Main Film CLBK, Sintya Marisca Terpikat Sifat ‘Bapak-Bapak’ Khiva Iskak Saat Bangun Chemistry

27 Juni 2026
Manjakan Nasabah, Bank Jakarta Sabet Tiga Penghargaan Customer Experience Terbaik 2026

Manjakan Nasabah, Bank Jakarta Sabet Tiga Penghargaan Customer Experience Terbaik 2026

27 Juni 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    3598 shares
    Share 1439 Tweet 900
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    451 shares
    Share 180 Tweet 113
  • Swiss vs Kanada Perebutkan Puncak Klasemen Grup B

    317 shares
    Share 127 Tweet 79
  • Marco Bezzecchi Kena Sanksi Berat Setelah Pukul Marshal

    317 shares
    Share 127 Tweet 79
  • Obat Bebas Tetap Memiliki Risiko, Masyarakat Diminta Lebih Bijak Menggunakannya

    315 shares
    Share 126 Tweet 79
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya