Koranindopos.com – JAKARTA – Pagi yang berkabut menyelimuti wilayah Papua Tengah saat barisan siswa dan guru berdiri rapi di lapangan Mepa Boarding School. Mereka bersiap melaksanakan upacara bendera memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.
Sekilas, suasana upacara tampak seperti kegiatan sekolah pada umumnya. Namun, ada satu sosok yang mencuri perhatian: pemimpin upacara bernama Deki Degei.
Dengan penuh percaya diri, Deki berdiri tegap memimpin jalannya upacara—meski hanya menggunakan satu kaki. Kondisi disabilitas yang dimilikinya tak menghalangi semangat dan keberaniannya untuk tampil di depan ratusan peserta upacara.
Aksi Deki bukan sekadar menjalankan tugas sebagai pemimpin upacara, tetapi juga menjadi simbol keteguhan dan semangat dalam dunia pendidikan. Ia menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi dan berkontribusi.
Para guru dan siswa yang hadir pun tampak terharu sekaligus bangga melihat keberanian Deki. Kehadirannya di podium upacara memberi pesan kuat tentang inklusivitas dan kesempatan yang setara bagi semua pelajar.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini terasa lebih bermakna dengan kisah Deki. Momen tersebut seolah mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga tentang membangun karakter, keberanian, dan rasa percaya diri.
Kisah Deki Degei menjadi inspirasi bahwa setiap anak, tanpa memandang kondisi fisik, memiliki potensi besar untuk berkembang jika diberikan kesempatan dan dukungan yang tepat.
Di tengah keterbatasannya, Deki justru mampu menunjukkan keteguhan hati dan semangat yang luar biasa. Ia menjadi contoh nyata bahwa inklusivitas dalam pendidikan harus terus diperjuangkan, agar semua siswa dapat merasakan pengalaman belajar yang adil dan bermakna.
Kisah ini bukan hanya menginspirasi lingkungan sekolahnya, tetapi juga masyarakat luas—bahwa keberanian untuk melangkah, meski dalam keterbatasan, dapat menjadi kekuatan besar untuk menginspirasi perubahan.(dhil)










