koranindopos.com, JAKARTA – Universitas Indonesia (UI) dan Universiti Sains Malaysia (USM) menyelenggarakan program pengabdian masyarakat internasional pada 17 Juni 2026 di Kubang Badak, Langkawi, Malaysia. Program yang dilaksanakan dalam kerangka World Class University (WCU) Community Service Program ini berfokus pada peningkatan kesadaran lingkungan, konservasi mangrove, dan budidaya tiram berkelanjutan sebagai upaya memperkuat ketahanan masyarakat pesisir.
Program ini dipimpin oleh Dr. Retno Lestari, M.Si., dengan Prof. Dr. rer. nat. Mufti Petala Patria, M.Sc. sebagai Koordinator Program SustainaBlue UI. Kegiatan ini juga melibatkan sembilan mahasiswa dan peneliti dari Departemen Biologi, Universitas Indonesia, yaitu Niken Laoren, Rakha Nabillutra Falah, Cloudya Zefanya, Ahura Zia Fiwansjah, Kendra Elvina Rosano, Hedza Fadli Robbina, Ilma Ardelia, Ushulil Hidayat, dan Syaqila Putri M. Tim ini turut didukung oleh Amelia Said dan Fajar Budiman yang berperan sebagai konsultan program.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi edukasi lingkungan di Kawasan Mangrove Kubang Badak. Dalam sambutan pembukaannya, Prof. Mufti menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab menghasilkan penelitian, tetapi juga memastikan bahwa pengetahuan ilmiah dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan yang kita hadapi saat ini,” ujarnya.
Selama sesi tersebut, para peserta diperkenalkan pada konsep dasar konservasi lingkungan, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, serta pentingnya ekologi ekosistem mangrove. Tim menjelaskan bahwa mangrove berfungsi sebagai pelindung alami terhadap abrasi pantai, mampu menyimpan karbon biru dalam jumlah besar, menyediakan habitat bagi berbagai jenis organisme, serta mendukung sektor perikanan dan mata pencaharian masyarakat setempat.
Untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai perspektif masyarakat terhadap konservasi lingkungan, tim melakukan wawancara dengan lima belas warga Kubang Badak. Wawancara tersebut menggali pemahaman masyarakat mengenai ekosistem mangrove, praktik pelestarian lingkungan, serta peran masyarakat lokal dalam menjaga sumber daya pesisir. Interaksi ini menciptakan ruang untuk saling belajar dan mendorong dialog antara kalangan akademisi dengan masyarakat setempat, sekaligus memberikan gambaran mengenai tingkat kesadaran lingkungan di komunitas tersebut.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat mengenai konservasi lingkungan masih beragam. Sebagian besar responden menyadari pentingnya mangrove bagi sektor perikanan, pariwisata, dan mata pencaharian masyarakat. Namun, beberapa responden masih belum memahami secara mendalam berbagai jasa ekosistem yang diberikan oleh mangrove, seperti penyerapan karbon (carbon sequestration), pelestarian keanekaragaman hayati, dan perlindungan wilayah pesisir. Temuan ini menegaskan pentingnya upaya edukasi lingkungan yang berkelanjutan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan konservasi.
Kepala Desa Kubang Badak sekaligus penggerak masyarakat setempat, Mohammad Fakarudin, menyampaikan apresiasinya terhadap program tersebut dan menekankan pentingnya akses masyarakat terhadap pengetahuan ilmiah.
“Kami sangat senang menyambut kehadiran mahasiswa dari UI dan USM. Sebagai masyarakat, kami tidak selalu memiliki akses terhadap informasi seperti ini. Kehadiran perwakilan dari perguruan tinggi membantu memperluas wawasan kami dan mendukung perkembangan masyarakat di desa ini,” ujarnya.
Tim juga melakukan observasi lapangan di kawasan mangrove Kubang Badak dan Kilim Karst Geoforest Park. Dengan luas sekitar 100 km², Kilim Karst Geoforest Park merupakan salah satu destinasi ekowisata unggulan di Langkawi dan menjadi bagian dari jaringan UNESCO Global Geopark. Pengakuan internasional ini memastikan kawasan tersebut terlindungi sebagai salah satu situs konservasi yang memiliki nilai penting secara global. Kawasan ini didominasi oleh spesies mangrove seperti Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata, serta menjadi habitat bagi berbagai satwa liar, antara lain Elang Bondol (Haliastur indus), Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster), Rangkong Oriental (Anthracoceros albirostris), Kalong Besar (Pteropus vampyrus), dan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis).
Melalui interaksi langsung dengan masyarakat setempat dan observasi lapangan, tim memperoleh pengalaman berharga dalam memahami bagaimana upaya konservasi dapat diterapkan pada tingkat komunitas. Di sisi lain, masyarakat setempat juga memperoleh akses terhadap pengetahuan ilmiah yang dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Selain kegiatan konservasi mangrove, tim juga mengunjungi Langkawi Oyster Farm, sebuah proyek akuakultur berbasis masyarakat yang didirikan oleh Centre for Marine and Coastal Studies (CEMACS), Universiti Sains Malaysia, pada tahun 2022. Inisiatif ini dikembangkan untuk memberdayakan masyarakat pesisir setempat sekaligus mendukung pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19 melalui praktik akuakultur yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Selama knowledge-sharing sessoin, perwakilan CEMACS menjelaskan bahwa budidaya tiram di Langkawi tidak memerlukan pakan buatan karena tiram memperoleh nutrisinya secara alami melalui mekanisme filter-feeding (menyaring partikel makanan dari air). Perairan di sekitar Langkawi yang kaya akan nutrien menyediakan kondisi yang ideal bagi pertumbuhan tiram, sehingga sistem budidaya ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga layak secara ekonomi.
Selain memiliki nilai ekonomi, budidaya tiram juga memberikan manfaat bagi kesehatan ekosistem. Sebagai organisme penyaring alami (filter feeder), tiram berperan dalam meningkatkan kualitas air dengan menyaring partikel tersuspensi dan bahan organik yang terdapat di kolom perairan. Oleh karena itu, apabila dikelola secara bertanggung jawab, budidaya tiram dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus berkontribusi pada upaya konservasi lingkungan.
Para peserta juga diperkenalkan dengan proses penanganan pascapanen yang diterapkan di lokasi budidaya. Untuk memastikan tiram aman dikonsumsi, fasilitas tersebut menggunakan sistem pemurnian berbasis ozon yang membantu mengurangi kontaminasi mikroba dan meningkatkan keamanan pangan sebelum produk didistribusikan kepada konsumen. Proses depurasi (pemurnian) ini menunjukkan bagaimana kegiatan akuakultur dapat dipadukan dengan teknologi lingkungan modern untuk menjaga kualitas produk sekaligus mendukung praktik produksi yang berkelanjutan.
Prof. Mufti juga menyoroti salah satu tantangan yang mulai muncul dalam pengembangan akuakultur berkelanjutan, yaitu pencemaran mikroplastik. Ia menjelaskan bahwa mikroplastik yang tersuspensi di perairan laut dapat masuk ke dalam tubuh hewan bivalvia selama proses penyaringan dan berpotensi terakumulasi di dalam jaringannya.
“Mikroplastik yang tersuspensi di kolom air dapat masuk ke dalam tubuh bivalvia selama proses filtrasi. Ketika air melewati insang, partikel-partikel tersebut dapat terperangkap dan pada akhirnya terakumulasi di dalam jaringan organisme,” jelasnya.
Observasi lapangan, diskusi dengan para pemangku kepentingan, serta interaksi langsung dengan masyarakat setempat memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga bagi para mahasiswa yang terlibat. Mereka memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai keterkaitan antara konservasi wilayah pesisir, mata pencaharian yang berkelanjutan, dan ketahanan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat setempat juga memperoleh akses terhadap informasi ilmiah yang dapat mendukung praktik pengelolaan lingkungan yang lebih tepat dan berbasis pengetahuan.
Program pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa keberhasilan upaya konservasi tidak hanya bergantung pada penelitian ilmiah dan kebijakan pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat. Kolaborasi antara Universitas Indonesia dan Universiti Sains Malaysia menjadi contoh nyata bagaimana kemitraan internasional dapat berkontribusi dalam meningkatkan literasi lingkungan, mendukung pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, serta menjaga kelestarian ekosistem pesisir dalam jangka panjang.
Dengan mengintegrasikan pengetahuan ilmiah, pemberdayaan masyarakat, akuakultur berkelanjutan, dan kerja sama internasional, program ini menegaskan potensi besar perguruan tinggi dalam memainkan peran transformatif untuk mendorong pembangunan berkelanjutan serta memperkuat ketahanan masyarakat pesisir. Melalui inisiatif seperti ini, konservasi mangrove dan budidaya tiram berkelanjutan tidak hanya menjadi praktik pelestarian lingkungan semata, tetapi juga menjadi jalan menuju masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir. (Riz)










