Koranindopos.com – JAKARTA – Gelombang panas ekstrem kembali melanda sejumlah negara di Eropa pada musim panas tahun ini. Suhu udara yang mencapai rekor tertinggi tidak hanya memicu gangguan kesehatan, tetapi juga menyebabkan meningkatnya angka kematian, mengganggu layanan transportasi, hingga membebani infrastruktur yang dinilai belum siap menghadapi cuaca ekstrem.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa sejak 21 Juni 2026, sekitar 1.300 kematian berlebih (excess deaths) telah dilaporkan di berbagai negara Eropa akibat gelombang panas tersebut.
Melalui unggahannya di media sosial X, Tedros menyebut Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, dengan laju kenaikan suhu hampir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
“Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang sebelumnya dianggap hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun,” ujarnya.
Menurut WHO, kondisi tersebut menunjukkan dampak nyata perubahan iklim yang semakin meningkatkan frekuensi serta intensitas cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Gelombang panas kali ini melanda sejumlah negara di kawasan Eropa Tengah dan Barat. Di Jerman, Republik Ceko, hingga Polandia, suhu udara dilaporkan mencapai 40 derajat Celsius.
Sementara itu, Prancis menjadi salah satu negara yang terdampak paling parah. Setelah beberapa hari mengalami suhu rata-rata hampir 30 derajat Celsius, bahkan mencapai 44 derajat Celsius di sejumlah wilayah, negara tersebut mencatat sekitar 1.000 kematian berlebih yang dikaitkan dengan cuaca panas ekstrem.
Selain meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, suhu tinggi juga menyebabkan gangguan terhadap jaringan transportasi, aktivitas ekonomi, serta layanan publik di berbagai negara.
Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap fenomena tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia memiliki karakteristik iklim yang berbeda sehingga sangat kecil kemungkinan mengalami gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa.
Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa heatwave umumnya terjadi di wilayah lintang menengah hingga tinggi, seperti Eropa, Amerika, dan Asia Tengah.
Sebaliknya, Indonesia berada di kawasan ekuator yang memiliki dinamika atmosfer berbeda serta perubahan cuaca yang relatif cepat.
“Secara geografis wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi,” jelas Ida.
Ia menambahkan bahwa kondisi atmosfer di Indonesia tidak memungkinkan terbentuknya fenomena heatwave sebagaimana yang dikenal di kawasan subtropis.
“Maka dapat dikatakan bahwa di wilayah Indonesia tidak terjadi fenomena yang dikenal dengan Gelombang Panas atau Heatwave,” katanya.
Meski tidak mengalami heatwave, BMKG mengingatkan bahwa beberapa wilayah Indonesia tetap dapat merasakan suhu udara yang cukup panas, terutama pada musim kemarau.
Kondisi tersebut umumnya dipengaruhi oleh posisi semu matahari, minimnya tutupan awan, serta kelembapan udara yang lebih rendah. Namun, suhu panas tersebut masih berada dalam karakteristik iklim tropis Indonesia dan berbeda dengan gelombang panas ekstrem yang terjadi di Eropa.
Masyarakat tetap diimbau menjaga kondisi tubuh dengan memenuhi kebutuhan cairan, mengurangi aktivitas berat di bawah sinar matahari langsung pada siang hari, serta mengikuti informasi cuaca resmi dari BMKG.
Fenomena yang terjadi di Eropa menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan berbagai negara. Karena itu, upaya mitigasi, adaptasi terhadap perubahan iklim, dan peningkatan kesiapsiagaan terhadap cuaca ekstrem menjadi tantangan global yang semakin mendesak.(Dhil/dtk)










