Koranindopos.com, Jakarta – Menyambut Hari Anak Nasional 2026, Regina Art bersama Galeri Indonesia Kaya (GIK) akan mementaskan drama musikal Fantasy Land pada 18 Juli 2026. Pertunjukan ini mengangkat kisah persahabatan, keberanian, dan pentingnya menerima setiap anak apa adanya, termasuk anak autis.
Pendiri Regina Art sekaligus penulis dan produser Fantasy Land, Joane Win, mengatakan pertunjukan ini lahir dari keinginan menghadirkan seni teater yang dapat dinikmati seluruh anak tanpa terkecuali.
“Kisah ini berangkat dari mimpi sederhana agar dunia imajinasi dan keajaiban teater dapat diakses semua anak. Kami ingin menyampaikan bahwa persahabatan sejati dibangun melalui penerimaan, empati, dan saling memahami,” ujar Joane dalam konferensi pers.
Menurutnya, anak-anak autis memulai persahabatan dengan dasar penerimaan tanpa syarat. Karena itu, Fantasy Land dirancang sebagai pertunjukan yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh penonton.
Joane menjelaskan, konsep ramah autis diterapkan melalui penyesuaian tata suara, pencahayaan, hingga kesiapan para pemain menghadapi respons spontan dari anak-anak berkebutuhan khusus selama pertunjukan.
“Kalau ada anak yang spontan mendekati panggung atau bereaksi dengan caranya sendiri, kami akan berinteraksi dan membantu mereka. Kami ingin mereka tetap merasa diterima, bukan disingkirkan,” katanya.
Ia mengaku tergerak menghadirkan konsep tersebut setelah melihat masih adanya anak autis yang diminta keluar dari ruang pertunjukan karena dianggap mengganggu penonton lain.
“Semua penonton membayar tiket yang sama dan memiliki hak yang sama untuk menikmati pertunjukan. Kami ingin membangun ruang yang lebih inklusif bagi semua anak,” tegasnya.
Sementara itu, sutradara Kemal Ferdiansyah mengatakan Fantasy Land tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga menjadi refleksi bagi orang tua dalam memandang dan mendampingi tumbuh kembang anak.
Menurut Kemal, tokoh antagonis Black Shadow melambangkan ambisi orang tua yang ingin membentuk anak hanya sesuai keinginannya, sementara dunia anak seharusnya penuh warna, kreativitas, dan kebebasan berekspresi.
“Anak-anak harus diperlakukan sebagai manusia yang merdeka. Mereka perlu diberikan ruang untuk berkembang sesuai potensi dan karakternya, bukan dipaksa menjadi seperti yang diinginkan orang tua,” ujarnya.
Dalam cerita, karakter-karakter seperti Yuni, Boni, Peri, dan Drago merepresentasikan nilai kepemimpinan, keceriaan, optimisme, kecintaan membaca, kerja sama, serta empati. Melalui perjuangan melawan Black Shadow dan Snake, para tokoh menunjukkan bahwa kebaikan, persahabatan, dan kolaborasi mampu mengalahkan ambisi yang mengekang.
Kemal juga menilai kehadiran Fantasy Land penting karena menghadirkan naskah teater anak karya asli Indonesia yang mengangkat isu inklusivitas dan hasil riset mengenai anak berkebutuhan khusus.
Selain Joane Win dan Kemal Ferdiansyah, pementasan ini dibintangi Enike sebagai Boni, Dea Safira sebagai Luna, Prilly Septiyani sebagai Peri, Laras Sati Shafira Iskandar sebagai Yuni, Helianna Sinaga sebagai Black Shadow, Andi Piter sebagai Drago, serta Andri sebagai Snake. (BRG/Hend)










