Koranindopos.com, JAKARTA – Pakar gempa bumi Dr. Daryono Gempa mengatakan, guncangan di barat laut Jakarta pada Sabtu dini hari (12/8/2026) adalah gempa dalam atau deep focus earthquake. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @daryono_edukator_kebencanaan, Daryono menyebut gempa di pesisir ibu kota itu terjadi akibat patahnya batuan di dalam lempeng yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa.
Anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IABI) tersebut menjelaskan, gempa terjadi akibat patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam hingga ratusan kilometer di bawah Laut Jawa. Peristiwa tersebut termasuk intra-slab event atau gempa yang terjadi di dalam lempeng yang tersubduksi.
“Gempa ini bukan dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dangkal, melainkan akibat patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa (Zona Benioff) hingga kedalaman 358 km. Proses deformasi batuan di dalam lempeng yang tersubduksi ini dikategorikan sebagai peristiwa intra-slab,” tulis Daryono dalam unggahannya, Sabtu pagi.
Meski episenter gempa berada di Laut Jawa sebelah utara Jakarta, getarannya justru lebih awal dan lebih kuat dirasakan di sejumlah wilayah Jawa bagian selatan, termasuk Sukabumi. Daryono menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan jalur perambatan energi seismik. Gelombang gempa dapat bergerak secara lebih efisien melalui medium slab lempeng yang padat dan homogen. “Hal ini terjadi karena gelombang seismik merambat paling efisien melalui medium slab lempeng yang padat dan homogen menuju arah selatan sebelum menyebar ke permukaan,” jelasnya.
Kedalaman gempa yang mencapai lebih dari 300 kilometer juga membuat wilayah yang merasakan getaran menjadi sangat luas. Guncangan disebut menjangkau Sumatra, Jawa bagian timur, hingga Kalimantan.
Meski jangkauannya luas, energi gempa di permukaan telah mengalami disipasi sehingga tidak sampai menimbulkan kerusakan struktural pada bangunan. “Kedalaman hiposenter yang melebihi 300 km (deep focus) menyebabkan spektrum attenuasi gelombang melemah secara bertahap tetapi menjangkau area geografis yang sangat luas. Meskipun wilayah jangkauan getaran sangat lebar, energi di permukaan sudah terdisipasi sehingga tidak berpotensi menimbulkan kerusakan struktural,” ujarnya. (hjg/mmr)









