Koranindopos.com – JAKARTA — Seorang pejalan kaki tewas setelah tertabrak kereta rel listrik (KRL) Commuter Line di pelintasan Stasiun Karet, Jakarta Pusat, Senin (21/9/2026) siang.
Korban diketahui merupakan seorang pria berinisial S alias A, berusia sekitar 50 tahun, yang sehari-hari bekerja sebagai kernet angkot di sekitar lokasi kejadian.
Muhammad Fikri (42), sopir angkot yang merupakan rekan kerja korban, mengatakan korban terpental sekitar 20 meter akibat benturan dengan rangkaian KRL.
“Dia kan keseharian-hariannya ngenek angkot, ngambil-ngambilin penumpang. Dia lagi nyeberang rel mau balik ke mobil,” ujar Fikri saat ditemui di lokasi, Senin.
Fikri mengatakan, korban belum lama menetap di kawasan sekitar lokasi kejadian. Sebelumnya, korban diketahui telah bertahun-tahun tinggal di Ciputat.
“Baru dia tinggal di sini, nyewa di seberang. Di sini baru dua bulan, kurang lebih dua bulan. Sebelumnya selama bertahun-tahun di Ciputat,” kata Fikri.
Pada hari kejadian, korban diketahui baru saja menunaikan ibadah shalat sebelum mendatangi tempat adiknya yang berada di seberang rel.
Korban kemudian makan di tempat tersebut sebelum kembali menuju kawasan Stasiun Karet.
“Awalnya dia dari habis shalat, terus ke tempat adiknya di seberang buat makan. Habis makan, dia arahnya balik lagi ke sini ke arah stasiun. Dia mau nyeberang, posisinya lagi megang lauk juga,” ujar Fikri.
Insiden terjadi sekitar pukul 14.20 WIB. Saat korban hendak menyeberangi rel, palang pintu perlintasan diketahui sudah dalam kondisi tertutup.
Perlintasan tersebut juga dijaga oleh petugas jaga perlintasan (PJL).
Pada saat bersamaan, terdapat dua rangkaian KRL yang melintas dari arah berlawanan, yakni dari arah Duri dan Manggarai.
Menurut Fikri, korban diduga mengira perlintasan sudah aman setelah satu rangkaian kereta dari arah Duri melintas.
Namun, masih ada rangkaian KRL lain yang melaju dari arah Manggarai menuju Duri.
“Posisi awal kereta tuh dua kereta yang lewat. Biasanya kan ngasih klakson, ini sama sekali enggak (kedengaran). Jadi pas satu kereta lewat, dia langsung nyeberang, terus ketabrak yang kedua,” jelas Fikri.
Korban kemudian tertabrak bagian samping gerbong depan rangkaian KRL.
Fikri yang mengenali korban sebagai rekan kerjanya langsung berlari menghampiri setelah mengetahui kejadian tersebut.
Ia mengatakan sempat melihat korban masih bernapas sesaat setelah tertabrak.
“Emang sih saya sempat (lihat) dia ada helaan napas terakhir, masih sempat bernapas. Terus matanya melotot ngelihatin saya,” cerita Fikri.
Fikri kemudian menutup mata korban dan membalik posisi tubuhnya. Ia juga mengambil kardus untuk menutupi tubuh korban sembari menunggu proses evakuasi.
Korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut.
Peristiwa ini terjadi di tengah aktivitas perjalanan KRL pada siang hari. Penanganan di lokasi kemudian dilakukan oleh petugas terkait, sementara kondisi perlintasan turut menjadi perhatian setelah insiden tersebut.
Kecelakaan tersebut menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan saat berada di perlintasan kereta, terlebih ketika palang pintu telah ditutup dan masih terdapat kemungkinan rangkaian kereta lain melintas dari arah berlawanan.(dhil/kmps)




