Koranindopos.com – JAKARTA — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bergerak cepat menguji sampel makanan dan minuman guna menyelidiki penyebab pasti dugaan keracunan massal yang menimpa 103 siswa SMP Negeri 2 Cisarua pada Rabu (21/10/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Fusia Meidiawaty, mengonfirmasi bahwa seluruh sampel makanan dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi para siswa telah diambil dari bank sampel untuk diteliti di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Bogor.
“Sampel makanan yang dimakan semua, dari yang tersedia di bank sampel, itu dibawa untuk diperiksa,” kata Fusia saat berada di Rumah Sakit Paru Gunawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua.
Fusia menjelaskan, menu program MBG yang dikonsumsi oleh para siswa pada hari tersebut terdiri dari nasi, telur, sayuran (wortel dan jagung), serta susu Ultra High Temperature (UHT).
Berdasarkan keterangan dari para siswa yang terdampak, gejala seperti pusing, mual, dan sakit perut mulai dirasakan dalam rentang waktu yang relatif singkat setelah mengonsumsi hidangan tersebut.
“Kalau anak-anak bilang, dari dia makan itu sekitar kurang dari 30 menit, mereka sudah merasakan itu,” ujar Fusia.
Ia menambahkan, hasil pengujian laboratorium diperkirakan baru bisa diketahui paling cepat dalam waktu 3 x 24 jam. Pihak Dinkes menegaskan belum dapat menyimpulkan jenis bahan makanan atau minuman mana yang memicu gejala tersebut sebelum hasil laboratorium resmi keluar.
Sementara itu, Penjabat (Pj) Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyatakan bahwa hasil dari Labkesda akan menjadi dasar bagi Pemerintah Kabupaten Bogor dalam mengambil kebijakan serta tindakan lebih lanjut.
“Nanti hasil uji laboratoriumnya keluar, kami baru bisa menyimpulkan apakah ini betul keracunan makanan atau keracunan minuman,” tegas Rudy.
Rudy menjelaskan bahwa apabila hasil pemeriksaan menemukan indikasi keracunan, Pemkab Bogor akan menyampaikan rekomendasi resmi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta Badan Gizi Nasional (BGN). Pasalnya, kewenangan operasional SPPG berada di bawah BGN, sedangkan Pemkab Bogor berfokus penuh pada penanganan serta pelayanan kesehatan bagi para korban.
Dari total 103 siswa yang dilarikan dan mendapat perawatan medis di RSPG Cisarua, mayoritas korban berada dalam kondisi stabil dan dapat dipulangkan secara bertahap. Hanya tersisa satu orang siswa yang masih membutuhkan perawatan rawat inap. Perwakilan dari BGN dan SPPG juga dilaporkan turut mendampingi para siswa selama penanganan medis berlangsung di rumah sakit.(dhil/dtk)










