Koranindopos.com, Jakarta – Sakit kepala yang berlangsung terus-menerus, gangguan penglihatan, perubahan siklus menstruasi, hingga kesulitan mendapatkan kehamilan kerap dianggap sebagai keluhan kesehatan biasa yang berdiri sendiri. Padahal, dalam kondisi tertentu, rangkaian gejala tersebut dapat saling berkaitan dan dipicu oleh adanya gangguan pada kelenjar pituitari atau hipofisis.
Kelenjar pituitari merupakan organ kecil seukuran biji kacang yang terletak di dasar otak. Walaupun berukuran sangat kecil, kelenjar ini memegang peranan krusial sebagai pengatur berbagai hormon penting tubuh, seperti hormon pertumbuhan, metabolisme, sistem reproduksi, hingga mengontrol fungsi kelenjar-kelenjar lain di dalam tubuh manusia.
salah satu penyebab utama munculnya gangguan fungsi organ tersebut adalah tumor pituitari. Sebagian besar kasus tumor pituitari bersifat jinak atau bukan kanker. Meski begitu, ukuran tumor yang membesar dapat memberikan tekanan pada jaringan saraf di sekitarnya serta mengacaukan keseimbangan produksi hormon dan fungsi penglihatan.
Gejala yang ditimbulkan tumor pituitari sangat bervariasi bergantung pada ukuran massa serta jenis hormon yang terpengaruh. Pembesaran tumor umumnya memicu sakit kepala menetap dan gangguan lapang pandang, khususnya penurunan kemampuan melihat area samping (penglihatan perifer). Sementara itu, dampak ketidakseimbangan hormon pada perempuan dapat berupa perubahan siklus menstruasi, terhentinya haid, keluarnya ASI saat tidak menyusui, hingga timbulnya masalah kesuburan.
Selain keluhan reproduksi dan penglihatan, perubahan fisik secara perlahan seperti pembesaran ukuran sepatu atau cincin juga patut diwaspadai. Kondisi ini bukan sekadar dampak perubahan berat badan, melainkan salah satu indikasi akromegali, yakni gangguan akibat kelebihan hormon pertumbuhan pada orang dewasa yang umumnya dipicu oleh tumor jinak pituitari.
“Gangguan penglihatan akibat tumor pituitari dapat berkembang perlahan dan, bila tidak ditangani, bahkan dapat menyebabkan kebutaan. Kondisi ini termasuk preventable blindness, sehingga bila dikenali dan ditangani lebih awal, risiko kehilangan penglihatan dapat dicegah,” ujar dr. Dialika Muzakkir, Sp.M, Subspesialis Neuro Oftalmologi.
Ia menambahkan bahwa masyarakat sangat perlu memahami dinamika perubahan penglihatan yang muncul bertahap, terutama bila keluhan tersebut bersifat menetap atau kian memburuk dari waktu ke waktu.
Keberadaan gejala-gejala tersebut tidak serta-merta memastikan seseorang mengidap tumor pituitari, mengingat keluhan serupa dapat dipicu oleh masalah kesehatan lainnya. Oleh karena itu, prosedur diagnosis medis secara rinci mutlak diperlukan melalui evaluasi hormon, tes darah, pemeriksaan lapang pandang, serta pemindaian pencitraan seperti MRI untuk memastikan kondisi dan ukuran tumor.
“Kami berharap masyarakat semakin mengenali gejala gangguan pituitari sejak awal. Semakin cepat dikenali dan diperiksa, semakin cepat pula pasien dapat memperoleh penanganan yang sesuai, sehingga peluang untuk mendapatkan hasil pengobatan yang lebih baik juga semakin besar,” kata dr. Selfy Oswari, Sp.BS, Subsp.N-Onk(K), S.Si, Ketua Yayasan Komunitas Pituitari Indonesia.
“Gangguan pituitari dapat berkaitan dengan berbagai fungsi tubuh, sehingga pemahamannya perlu diperkenalkan lebih luas. Edukasi kepada masyarakat diharapkan dapat membantu mengenalkan peran pituitari dan membuat masyarakat lebih peka terhadap perubahan tubuh yang terjadi,” ujar dr. Dicky Levenus Tjahary, Sp.PD-KEMD, Ketua Pokja Hipofisis PERKENI.
Rangkaian Pituitary Awareness Month 2026 di CFD Sudirman
Guna meningkatkan kesadaran publik mengenai kesehatan hipofisis, Yayasan Komunitas Pituitari Indonesia bekerja sama dengan Kelompok Kerja Hipofisis PERKENI menggelar kampanye edukasi bertajuk Pituitary Awareness Month 2026. Sebagai puncak rangkaian kegiatan, penyelenggara menggelar Senam Pituitary, Pemeriksaan Kesehatan Gratis, serta Edukasi Tumor Pituitari pada Minggu, 4 Oktober 2026 di area Car Free Day (CFD) Sudirman, Jakarta Pusat.
Melalui kegiatan edukatif terbuka di area Car Free Day tersebut, masyarakat diajak untuk lebih peka mendeteksi perubahan kondisi tubuh sejak dini tanpa perlu panik. Langkah pengenalan gejala awal ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis profesional, sehingga penanganan dan pengobatan yang tepat dapat diberikan secara optimal. (RIS/Hend)










