Selasa, 13 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Kesehatan

Riset UGM: AI Tingkatkan Akurasi Diagnosis Gigi hingga 79 Persen

Editor : Affandy oleh Editor : Affandy
13 Oktober 2026
in Kesehatan
A A
0
Riset UGM: AI Tingkatkan Akurasi Diagnosis Gigi hingga 79 Persen

Foto: dok. getty images

Share on FacebookShare on Twitter

Koranindopos.com,JAKARTA – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi meningkatkan ketepatan diagnosis dan pengodean tindakan medis dalam pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Riset Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan bahwa penggunaan AI mampu meningkatkan ketepatan pengodean diagnosis dokter gigi di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dari 49,4 persen menjadi 79 persen.

Temuan tersebut berasal dari penelitian doktoral drg Achmad Zam Zam Aghasy, MKes, yang menguji pemanfaatan AI sebagai sistem pendukung keputusan klinis bagi dokter gigi. Penelitian ini menyoroti persoalan ketepatan rujukan pasien dari FKTP ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL), termasuk rumah sakit.

Sebelumnya, sejumlah penelitian mencatat sekitar 52,2 hingga 58,2 persen rujukan pasien gigi dari FKTP ke fasilitas kesehatan lanjutan dinilai tidak tepat. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya pemahaman mengenai diagnosis serta pengodean tindakan medis yang sesuai.

“Lima dari 10 yang diputuskan untuk dirujuk itu ternyata sebenarnya bisa dilakukan di FKTP, sehingga beban secara nasional menjadi sangat membengkak karena pasien menumpuk di FKRTL,” ungkap Zamzam dalam keterangan tertulis di laman resmi UGM, Selasa (13/10/2026).

Artikel Terkait

Identitas Jasad ‘Green Boots’ di Gunung Everest Terungkap Lewat Tes DNA, Akan Dipulangkan pada 2027

Strategic PCI Meeting 2026 Jadi Forum Pembelajaran Kasus Jantung Kompleks

5 Makanan Favorit Gen Z yang Bisa Memicu Kolesterol Tinggi, Ada Seblak hingga Boba

Dalam penelitian tersebut, Zamzam melibatkan 62 dokter gigi yang bertugas di FKTP mitra BPJS Kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Para dokter dibagi ke dalam kelompok yang menggunakan bantuan AI dan kelompok yang bekerja tanpa teknologi tersebut.

Hasil pengujian menunjukkan, kelompok dokter gigi yang menggunakan AI mencatat ketepatan pengodean tindakan medis sebesar 87,4 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa AI yang mencapai 63,9 persen.

Ketika ketepatan pengodean diagnosis dan tindakan medis dinilai secara bersamaan, kelompok dengan bantuan AI mencatat akurasi sebesar 68,4 persen. Sementara itu, kelompok tanpa AI hanya mencapai 38,7 persen.

Manfaat AI juga terlihat dalam penanganan kasus yang relatif jarang ditemukan. Pada kasus stomatitis ulseratif nekrotikans, misalnya, ketepatan kelompok yang menggunakan AI mencapai 71 persen. Sebaliknya, kelompok tanpa bantuan AI hanya mencatat ketepatan sebesar 12,9 persen.

Meski menunjukkan peningkatan akurasi, penelitian tersebut tidak menemukan perbedaan waktu pengerjaan yang bermakna antara kelompok pengguna AI dan kelompok yang bekerja tanpa bantuan teknologi.

Hasil ini mengindikasikan bahwa AI berpotensi membantu dokter gigi mengambil keputusan klinis dan menentukan kode diagnosis maupun tindakan secara lebih tepat. Namun, teknologi tersebut belum tentu membuat proses pelayanan menjadi lebih cepat.

Ketepatan diagnosis dan pengodean tindakan medis menjadi faktor penting dalam menentukan apakah pasien dapat ditangani di FKTP atau perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan.

Apabila pasien yang sebenarnya dapat ditangani di FKTP terlalu sering dirujuk ke rumah sakit, beban pelayanan di fasilitas kesehatan lanjutan berpotensi meningkat. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi efisiensi penggunaan sumber daya kesehatan.

Melalui pemanfaatan AI sebagai sistem pendukung keputusan klinis, dokter gigi diharapkan memperoleh bantuan dalam menentukan diagnosis dan tindakan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Meski demikian, keputusan medis tetap membutuhkan penilaian profesional dokter gigi berdasarkan hasil pemeriksaan dan kondisi klinis pasien. AI berperan sebagai alat bantu, bukan pengganti tenaga medis.

Zamzam menilai penerapan AI dalam pelayanan kesehatan perlu mempertimbangkan sejumlah aspek, terutama keamanan data pasien dan kesiapan infrastruktur teknologi.

Ketersediaan jaringan internet yang memadai serta integrasi dengan sistem informasi kesehatan menjadi faktor penting agar teknologi tersebut dapat digunakan secara efektif di fasilitas pelayanan kesehatan.

Ia juga merekomendasikan agar Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan mempertimbangkan integrasi sistem pendukung keputusan klinis berbasis AI ke dalam platform SATUSEHAT dan PCare.

Integrasi tersebut diharapkan dapat membantu tenaga medis mengakses dukungan pengambilan keputusan secara lebih praktis sekaligus memperkuat konsistensi pencatatan diagnosis dan tindakan medis.

Kopromotor disertasi, dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., menilai penelitian tersebut memberikan bukti mengenai potensi pemanfaatan AI dalam pelayanan klinis di Indonesia.

“Inisiatif terkait kecerdasan buatan di setting layanan klinis masih terbatas dan belum banyak buktinya, sehingga di sini Dr. Zamzam mengambil peran untuk menjadi pihak yang membuktikan apakah ini ada peran yang strategis atau tidak,” ujarnya.

Temuan penelitian UGM ini memperlihatkan bahwa AI berpotensi membantu meningkatkan ketepatan diagnosis dan pengodean tindakan dokter gigi, sekaligus mendukung penentuan rujukan pasien yang lebih sesuai. Namun, penerapan secara luas tetap memerlukan pengujian lebih lanjut, perlindungan data pasien, serta kesiapan infrastruktur dan sistem pelayanan kesehatan.(Dhil/dtk)

Topik: diagnosis gigiUGM

TerkaitBerita

Identitas Jasad ‘Green Boots’ di Gunung Everest Terungkap Lewat Tes DNA, Akan Dipulangkan pada 2027
Kesehatan

Identitas Jasad ‘Green Boots’ di Gunung Everest Terungkap Lewat Tes DNA, Akan Dipulangkan pada 2027

oleh Editor : Affandy
12 Oktober 2026
TRANSFER ILMU: Tindakan live demo case 2 Strategic PCI Meeting 2026 di Mayapada Hospital Jakarta Selatan. (FOTO: SHANTY AULIA/KORANINDOPOS.COM)
Kesehatan

Strategic PCI Meeting 2026 Jadi Forum Pembelajaran Kasus Jantung Kompleks

oleh Editor : Memoarto
12 Oktober 2026
5 Makanan Favorit Gen Z yang Bisa Memicu Kolesterol Tinggi, Ada Seblak hingga Boba
Kesehatan

5 Makanan Favorit Gen Z yang Bisa Memicu Kolesterol Tinggi, Ada Seblak hingga Boba

oleh Editor : Affandy
11 Oktober 2026
Perkuat Layanan Kesehatan Primer, Asuransi Astra Dorong Upaya Pencegahan Stunting di Padang
Kesehatan

Perkuat Layanan Kesehatan Primer, Asuransi Astra Dorong Upaya Pencegahan Stunting di Padang

oleh Editor : Doe
9 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

Rekrutmen CPNS Guru Dibuka 2027–2029, Pemerintah Siapkan 464.856 Formasi

Rekrutmen CPNS Guru Dibuka 2027–2029, Pemerintah Siapkan 464.856 Formasi

13 Oktober 2026
Emiten Haji Isam PGUN Buka Suara soal Gadai 5,3 Miliar Saham ke Bank Mandiri

Emiten Haji Isam PGUN Buka Suara soal Gadai 5,3 Miliar Saham ke Bank Mandiri

13 Oktober 2026
Harga Emas Antam Hari Ini 13 Oktober 2026 Anjlok Rp20.000, Buyback Ikut Turun

Harga Emas Antam Hari Ini 13 Oktober 2026 Anjlok Rp20.000, Buyback Ikut Turun

13 Oktober 2026
SERANGAN MILISI: Pasukan koalisi Saudi membeberkan bahwa milisi Houthi di Yaman menyerang gardu listrik di Masjid Nabawi di Madinah pada Kamis (1/10/2026). (REUTERS/SAUDI PRESS AGENCY)

Pasca Houthi Bombardir Bandara King Halid, Sejumlah Negara Larang Warganya Ke Arab Saudi

13 Oktober 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    4992 shares
    Share 1997 Tweet 1248
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1038 shares
    Share 415 Tweet 260
  • Jorge Jesus Enggan Menambah Besar Polemik Dengan Cristiano Ronaldo

    311 shares
    Share 124 Tweet 78
  • Real Madrid Buang Antonio Rudiger di Musim 2027/2028

    310 shares
    Share 124 Tweet 78
  • Pemilahan Sampah Warga Rorotan Tembus 90 Persen, Biodigester Olah 1,2 Ton Sampah per Hari

    314 shares
    Share 126 Tweet 79
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya