Koranindopos.com – JAKARTA — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengumumkan akan membuka program pendanaan riset (Call for Proposal) yang secara khusus berfokus pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pembukaan pendaftaran riset ini akan diluncurkan dalam rangkaian forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, pada 11–13 November 2026.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa pelaksanaan riset ditargetkan mulai berjalan aktif pada Januari 2027 mendatang untuk mendukung penanggulangan karhutla secara komprehensif.
“Kami lakukan namanya Call for Proposal. Jadi kita akan membuka riset yang akan kita mulai nanti di bulan Januari tahun depan. Nanti riset-riset ini akan mendukung untuk penanganan kebakaran hutan,” ujar Fauzan usai Taklimat Media KSTI 2026 di Gedung D Kemendiktisaintek, Senayan, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Fauzan menegaskan bahwa Kemendiktisaintek berkomitmen memastikan seluruh riset karhutla terarah dengan jelas dan mampu menghasilkan produk inovasi yang aplikatif bagi pengguna di lapangan. Untuk mencapai tujuan tersebut, kementerian menjalin kerja sama erat dengan pemerintah daerah di tingkat kabupaten, kota, hingga provinsi.
“Kita mengembangkan produk ini kan perlu. Jadi nanti siapa yang akan memanfaatkan. Oleh karena itu kami juga bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah provinsi,” tutur Fauzan.
Dalam kesempatan yang sama, Fauzan menyoroti masukan dari para ahli mengenai efektivitas metode penanganan karhutla saat ini, seperti operasi pengeboman air (water bombing). Menurut kajian pakar, water bombing terbukti efektif untuk lahan non-gambut, namun menghadapi kendala besar jika diterapkan pada lahan gambut.
Karakteristik spesifik lahan gambut yang berpotensi menyebarkan api di bawah permukaan (subsurface fire) membuat proses pemadaman menjadi lebih rumit:
-
Titik Api Tersembunyi: Api di lapisan bawah tanah tidak terlihat secara langsung dari udara.
-
Resiko Bara Menyala Kembali: Penyiraman air dari udara kerap hanya membasahi lapisan atas, sementara bara api di lapisan dalam tetap menyala dan memicu timbulnya titik api baru (hotspot).
Rekomendasi saintifik ini telah disampaikan para pakar kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai bahan evaluasi kebijakan. Fauzan menilai penanganan karhutla memerlukan pendekatan multidisiplin yang memadukan penegakan hukum tegas serta solusi berbasis sains yang teruji.
“Mudah-mudahan solusi bisa hadir secara cepat, tetapi yang lebih penting lagi adalah penanganan jangka panjang supaya kejadian serupa tidak terus terulang di masa depan,” pungkasnya.(dhil/dtk)










