koranindopos.com – JAKARTA. Fenomena Citayem Fashion Week (CFW) menjadi tren dalam beberapa waktu belakangan. Bahkan, penggiatnya bukan hanya remaja dari Citayem, Bogor, dan Depok. Pejabat hingga selebriti tanah air tertarik untuk berlenggak-lenggok di zebra cross di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, yang kini menjadi arena catwalk dadakan tersebut. Di antaranya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan model Paula Verhoeven.
Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria menuturkan, Pemprov DKI sangat mengapresiasi kegiatan kreatif di Dukuh Atas itu. Banyak hal positif terkait kegiatan kreatif tersebut. Salah satunya, fashion show yang biasanya dilaksanakan kelas menengah ke atas kini bisa dilakukan siapa saja dalam CFW. Tidak terkecuali anak-anak atau pelajar.
”Biasanya, yang namanya fashion show itu dikerjakan orang-orang, mohon maaf, yang kelas menengah ke atas. Sekarang bisa dikerjakan siapa saja, masyarakat sederhana. Lalu, biasanya fashion show itu dilakukan di indoor. Saat ini bisa dilakukan di outdoor. Dengan adanya fenomena ini, sisi positifnya bisa menembus itu,’’ terangnya.
Riza juga menyebutkan, fenomena tersebut membuat fashion show yang biasanya hanya bisa dinikmati atau ditonton kalangan tertentu kini bisa dinikmati siapa saja. ”Ini sesuatu yang luar biasa. Jadi, sekarang zaman sudah berubah, luar biasa. Kami mengapresiasi,’’ ujarnya.
Bukan hanya itu, dia menyampaikan, fenomena itu juga membuat banyak anak sekolah bertahan di sana hingga larut malam. Dia mengimbau anak-anak yang kini memasuki masa sekolah untuk tidak pulang larut malam. ’’Pulangnya kanjauh, ke Depok, Bojong Gede, Citayam, dan sebagainya. Nanti jam berapa sampai rumah? Bisa sampai jam 12 (malam),’’ ucapnya. Karena itu, dia mengimbau anak-anak agar mengatur waktunya untuk bisa menikmati kegiatan tersebut.
Lantaran semua kalangan bisa menikmati CFW, orang yang datang ke kawasan Dukuh Atas terus membeludak. Hal tersebut membuat arus lalu lintas di kawasan itu terganggu. ’’Namun demikian, karena antusiasme semua luar biasa, orang ingin tahu. Akhirnya, jumlahnya membeludak. Karena jumlahnya membeludak, apa yang terjadi? Jadi banyak parkir. Kemarin saya lihat parkir di trotoar, di jalur sepeda. Kemudian, orang nggak bisa jalan di situ, jalan umum tertutup,’’ ujarnya.
Terkait beberapa dampak keramaian di sana, dia mengusulkan agar CFW dipindah dari Dukuh Atas. Ada beberapa lokasi yang diusulkan. Mulai plaza selatan Monas hingga Taman Lapangan Banteng. ”Saya usulkan bisa saja di Monas, plaza selatan tuh yang baru. Bisa duduk di situ, ada tribunnya, tempatnya luas. Itu bisa. Nanti kami diskusikan. Kedua, mau Taman Lapangan Banteng. Itu juga luas, itu juga keren, bisa. Ada juga usul dari DPRD DKI di TIM. Itu juga keren, bagus sekarang. Keempat, bisa di Senayan. Itu kan luas, bisa ditanya. Nanti kami tanya ke Setneg, boleh nggak. Kalau mau lebih luas, bisa di Kemayoran. Nanti kami tanya ke temen-temen di Setneg juga. Itu kan luas, boleh nggak. Lalu, di Sarinah juga bisa. Dulu, yang bangun Bung Karno, sekarang direnovasi jadi tambah keren,’’ ungkapnya.
Riza menyampaikan bahwa Pemprov DKI siap mengoordinasikan lokasi yang diinginkan. Sebab, beberapa lokasi di Jakarta dimiliki pihak yang beragam. Ada milik pemerintah pusat, BUMN, hingga Setneg. ’’Silakan diusulkan apa yang lebih keren. Kalau kami langsung putuskan, nanti wah ini nggak oke. Kan saya ngerti temen-temen yang di situ maunya tempatnya yang strategis, mudah diakses, atau nanti nunggu di Kota Tua, sekarang lagi renovasi, mudah-mudahan nggak lama lagi. September mudah-mudahan selesai. Itu keren, itu juga bisa,’’ ujarnya. Dia menambahkan, sebagian kalangan yang mengikuti CFW di Dukuh Atas juga merupakan kalangan yang biasanya hadir di Kota Tua. Lantaran Kota Tua sedang direnovasi, mereka pindah ke Dukuh Atas. ’’Nanti bisa kembali lagi ke situ. Jadi, kami menghargai, mengapresiasi. Tapi, kami tetap akan cari solusi,’’ katanya. (wyu/mmr)










