
LABUAN BAJO, koranindopos.com – Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (UI) dan PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (PT PII) menggelar program Bergizi dari Bumi Kami di Kantor Bupati, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa, 26 Oktober 2021.
Rangkaian kegiatan di awali Focus Group Discussion (FGD) bertema Pola Konsumsi Masyarakat (03/09/2021) dengan melibatkan pemangku kepentingan kunci dari unsur pemerintah, puskesmas serta kelompok kerja stunting NTT secara daring.
Berikutnya program Workshop Memasak Makanan Bergizi (26/10/2021) yang diikuti oleh 25 perwakilan kader Posyandu dan orang tua dari balita stunting dari 4 Desa/Kelurahan yaitu Desa Gorontalo, Kelurahan Waekelambu, Kelurahan Labuan Bajo dan Desa Batu Cermin,
Seluruh peserta diharapkan dapat menjadi duta atau agent of change bagi masyarakat sekitarnya. Workshop dilaksanakan secara hybrid yaitu luring dan daring melalui aplikasi zoom dan dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat Drs. Fransiskus S Sodo, Direktur Utama PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero), Muhammad Wahid Sutopo, Direktur Direktorat Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPM) UI Agung Waluyo, S.Kp., M.Sc., Ph.D serta
Program ini merupakan pengabdian masyarat kemitraan dengan PT PII dan melibatkan 6 (enam) dosen dari multidisplin ilmu yaitu Program Studi Humas, Program Pendidikan Vokasi dan Depatemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat sasaran mengenai bahan pangan bergizi yang dapat dengan mudah diperoleh di NTT serta cara pengolahan yang baik agar kandungan gizi terjaga.
Agung Waluyo, Ph.D, Direktur Direktorat Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPM) Universitas Indonesia mengatakan Program Bergizi dari Bumi Kami selain untuk mencegah peningkatan angka stunting juga untuk membentuk duta gizi Labuan Bajo dengan melibatkan masyarakat lokal dan mensejahterakan masyarakat setempat.
“Kami bersyukur kolaborasi pengabdian masyarakat dalam bentuk CSR PT PII dan UI sudah dalam tahap pelaksanaan. Kami berharap peserta dapat menjadi duta dan kader yang proaktif untuk mencegah peningkatan angka stunting. Kolaborasi ini wujud komitmen UI dan PT PII untuk mendukung upaya pemerintah Kabupaten Manggarai Barat untuk mengurangi angka stunting

Direktur Utama PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) Muhammad Wahid Sutopo mengatakan Program ini sebagai bentuk kepedulian pada masyarakat di sekitar proyek infrastruktur. “Harapan kami bahwa melalui program CSR PT PII bersama UI, dapat memberikan kontribusi yang signifikan mendukung program Pemerintah untuk penurunan angka stunting sebagai wujud langkah-langkah peningkatan kesehatan dan kualitas SDM Labuan Bajo dan NTT pada umumnya. Kami yakin bahwa dengan gizi yang cukup, akan muncul kader-kader anak bangsa di Labuan Bajo yang berprestasi dan kreatif sehingga mampu melalui pariwisata menjadi masyarakat yang sejahtera”, Lanjut Sutopo.
Drs. Fransiskus S Sodo Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik dan terima kasih atas perhatian UI dan PT PII terhadap kasus stunting di Labuan Bajo. “Masalah stunting merupakan masalah sosial cukup besar di NTT di termasuk Manggarai Barat yaitu sekitar 15.1% dari jumlah balita yang diukur. Kami menargetkan angka stunting turun ke 10% pada tahun depan.
Kehadiran PT PII dan UI dalam program pengabdian bersama merupakan bagian yang utuh dari proses penekanan angka stunting tersebut karena langsung mengedukasi kader dan para orang tua balita. Penekanan stunting tidak dapat hanya dilakukan oleh satu pihak namun perlu kolaborasi antar berbagai pihak termausk akademisi dan BUMN. Saya berharap kolaborasi ini menjadi kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat dan menghasilkan generasi terbaik untuk masa depan” Fransiskus mengatakan
Pijar Suciati S.Sos., M.Si, Ketua Tim Pengabdian Masyarakatyang juga Dosen Program Studi Hubungan Masyarakat, Program Pendidikan Vokasi UI mengatakan stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan fisik maupun otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak stunting akan lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. “Penyebab stunting adalah rendahnya akses terhadap makanan bergizi, kurangnya asupan vitamin dan mineral dan minim dalam konsumsi sumber protein hewani dalam jangka panjang.
Edukasi yang diberikan adalah workshop memasak makanan bergizi bagi orangtua dari anak yang mengalami stunting, Pada workshop memasak juga disampaikan tentang nilai kandungan gizi serta tips cara masak yang baik sesuai standar Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS) seperti proses mencuci tangan dan bahan makanan sebelum dimasak serta. Tim juga memberikan materi edukasi berupa video untuk 6 (enam) resep masakan bergizi serta kalender edukatif sehingga dapat terus diulang dan dipelajari setelah kegiatan selesai ” Kata Pijar
Lebih lanjut Pijar menjelaskan terdapat 6 (enam) menu padat gizi yang menjadi materi edukasi adalah Tahu Kukus Daun Kelor, Bola-Bola Ikan Tongkol/Tuna, Tumis Teri Daun Kelor, Bubur Jakeca (Jagung, Kelor, Cakalang), Agar-agar Kelapa Muda Gula Aren yang disajikan dalam bentuk video dan juga kelendar edukasi.
“Pemilihan jenis pangan tersebut didasarkan pada FGD yang telah dilakukan pada Sepember lalu tentang pola konsumsi masyarakat. Dalam materi edukasi terdapat resep, kandungan gizi dan cara memasak yang baik. Kami memilihkan resep yang mudah tetapi padat gizi yaitu mengandung protein, karbohidrat maupun serat yang seimbang untuk menjadi menu sehari-hari. Harapannya dengan pengetahuan yang baik, masyarakat dapat mengoptimalkan sumber pangan yang ada sehingga anak-anak dapat tumbuh sesuai dengan tahapan perkembangan yang seharusnya” tutup Pijar (riz)










