Koranindopos.com – Jakarta. Komisi V DPR RI segera menjadwalkan rapat bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Tujuannya, membahas rencana pemerintah menggunakan tenaga kerja dari Warga Negara Asing (WNA) sebagai pengawas proyek pembangunan IKN Nusantara.
Hal itu disampaikan anggota DPR RI Lasarus saat memimpin Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR RI bersama Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR dengan agenda Evaluasi Pelaksanaan TA 2023 sampai Mei di Gedung Nusantara DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (20/6).
Lasarus menyatakan, meski ini bukan bagian utama dari jasa konstruksi, namun soal pengawas kegiatan di IKN dari tenaga asing telah menjadi isu yang hangat dalam dua minggu terakhir. ”Ini kami yang selaku membidangi infrastruktur juga bertanya-tanya ini, Pak. Apakah masih kurang cukup mampu tenaga dari kita sendiri untuk melakukan pengawasan di IKN?,” ujar Lasarus seperti dikutip dari laman resmi DPR RI.
Politisi PDIP itu mempertanyakan kualitas tenaga kerja dalam negeri, sehingga untuk tenaga pengawas harus mengambil tenaga kerja asing. ”Bukan kita ngompori, ini tamparan buat Kementerian PU, Pak. Saya rasa ini juga menunjukkan kualitas kita hari ini sampai dimana gitu loh, Pak. Bahwa kualitas kita sendiri belum berada pada titik yang bisa menyakinkan bangsa kita sendiri,” cetus dia.
Anggota Komisi V DPR RI Mulyadi sebelumnya pada saat rapat juga menyinggung keterlibatan tenaga kerja asing dalam proyek IKN. ”Ini IKN menyedot anggaran yang begitu besar, tapi tiba-tiba muncul wacana pekerja asing masuk ke IKN. Ini saya kira miris, kalau kebutuhan non skill tanda kutip harus tenaga asing kan sayang,” tegas Politisi Fraksi Partai Gerindra itu.
Mulyadi mendorong pemerintah untuk menyiapkan pelatihan mengasah kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam negeri. Pelatihan SDM tersebut juga diharapkan bisa memenuhi kebutuhan yang diperlukan untuk pembangunan dan percepatan proyek IKN.
”Saya beberapa kali naik kereta LRT di Singapura, Kuala Lumpur, ternyata banyaknya insinyur-insinyur Indonesia. Padahal negara kita sedang membangun dan membutuhkan mereka tapi kenapa nggak kerja di Indonesia, ah kita nggak dihargai, loh kan mengagetkan,” tandas Mulyadi.











