Koranindopos.com – Palembang. Pembangunan infrastruktur transportasi dan peningkatan layanan angkutan umum massal di Kota Palembang semakin memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat. Khususnya kaum perempuan dan turut mendukung para pelaku UMKM karena tarifnya yang terjangkau.
Hal ini mengemuka dalam diskusi publik yang diselenggarakan komunitas pemberdayaan perempuan dan anak di Sumsel, Bunda Merah Putih. Diskusi bertema Konektivitas Transportasi di Kota Palembang itu dihadiri Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. ”Naik transportasi umum di Kota Palembang sekarang lebih mudah, murah, dan aman,” ujar Budi Karya dalam rilis Kemenhub, Minggu (16/7).
Salah satu moda transportasi umum di Palembang adalah LRT. Di stasiun-stasiun banyak petugas yang berjaga dan banyak feeder seperti angkot yang semakin memperluas jangkauan dengan gratis pada para penumpang. ”Ini juga sangat membantu para pelaku UMKM karena tarifnya terjangkau,” jelas Budi Karya.
Seorang peserta perempuan bernama Novi yang hadir dalam diskusi menyampaikan pengalamannya naik angkutan umum di Kota Palembang yang saat ini sudah semakin mudah diakses. Namun dirinya masih mengkhawatirkan soal keamanannya.
Budi Karya menjelaskan, selain ada petugas yang berjaga, di dalam angkutan massal seperti LRT maupun angkutan feeder juga dipasang CCTV untuk memastikan seluruh penumpang mendapatkan keamanan dan kenyamanan. Jika ada pengemudi yang ugal-ugalan atau tidak sopan bisa diketahui segera dan dilakukan tindakan teguran atau sanksi baik oleh operator maupun regulator.
Menurut Budi Karya, Kota Palembang merupakan pionir integrasi antarmoda di Indonesia, yang meliputi moda angkutan udara, jalan, laut, sungai dan kereta api. ”Keberhasilan inisiatif yang inovatif di Kota Palembang memberikan contoh dan inspirasi bagi daerah lain untuk lebih mengembangkan sistem transportasi yang efisien, nyaman, dan terintegrasi,” ujarnya.
Selain LRT, dukungan angkutan massal yang terintegrasi lainnya yang dibangun yaitu layanan angkutan umum perkotaan melalui angkot feeder dan juga layanan Bus Trans Musi dengan skema Buy the Service (BTS). Tidak hanya dukungan sarana transportasi, pemerintah juga memberikan dukungan prasarana transportasi seperti dermaga 16 Ilir dan 7 ulu yang terintegrasi dengan Trans Musi dan LRT.
Pengamat transportasi dari Universitas Sriwijaya Prof. Erika Buchari menilai merubah kebiasaan dari naik kendaraan pribadi ke kendaraan umum memang tidak mudah. Harus mengubah paradigma. Namun, dengan adanya integrasi antarmoda, aksesnya terhubung dengan mudah. ”Sekarang naik angkutan umum tidak sulit lagi, turun angkot kita langsung di stasiun. Tidak mudah memperjuangkan ini,” ujar Prof. Erika.










