koranindopos.com, JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, Betadine Indonesia menggelar Festival Generasi Berani Exploring sekaligus memperkuat Gerakan #BiarkanMerekaBerlari bersama Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia**. Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Betadine mengajak keluarga Indonesia untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi anak agar dapat tumbuh melalui aktivitas bermain, bergerak, bereksplorasi, serta mengenal budaya Indonesia, tanpa mengesampingkan pentingnya kecakapan dan keamanan di ruang digital.
Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, Betadine juga meluncurkan Buku Saku Generasi Berani Exploring**, yang memuat 100 inspirasi aktivitas untuk dilakukan bersama keluarga. Buku ini disusun melalui kolaborasi dengan dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang pediatri sosial, komunitas keluarga, serta komunitas permainan dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga setiap aktivitas yang disajikan relevan dengan kebutuhan tumbuh kembang anak sekaligus mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang semakin dekat dengan layar dan perangkat digital. Oleh karena itu, perlindungan anak tidak hanya berkaitan dengan keamanan di dunia digital, tetapi juga bagaimana mereka tetap memiliki kesempatan untuk bermain, bergerak, berinteraksi, dan belajar dari lingkungan sekitar. Semangat inilah yang diusung melalui Festival Generasi Berani Exploring sebagai bentuk dukungan terhadap upaya membangun generasi yang sehat, aktif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Dalam pidato utamanya, Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, menyoroti pentingnya kesadaran akan pengaruh algoritma terhadap kehidupan digital anak.
> “Salah satu tantangan terbesar di ruang digital adalah ilusi algoritma. Anak merasa bebas memilih konten, padahal algoritma telah lebih dahulu menentukan apa yang akan mereka lihat berdasarkan perilaku dan kebiasaan mereka.”
Ia menegaskan bahwa seaman apa pun sebuah platform digital dirancang, peran orang tua tetap tidak tergantikan.
“Tidak ada algoritma yang dapat menggantikan kehadiran, kasih sayang, keteladanan, dan pendampingan orang tua.”
Menurutnya, kolaborasi seperti ini diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan bersama untuk menciptakan keseimbangan antara ruang digital yang aman dan pengalaman nyata yang mendukung tumbuh kembang anak.
Festival Generasi Berani Exploring juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, melalui Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra. Dukungan tersebut diwujudkan melalui kehadiran **Komunitas Hong, Pusat Kajian Mainan Rakyat yang dipimpin oleh Prof. Zaini Alif, yang mengajak anak-anak mengenal sekaligus memainkan berbagai permainan tradisional Indonesia. Kehadiran permainan tradisional ini diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi anak untuk bergerak, berinteraksi, berkreasi, dan membangun kedekatan dengan budaya bangsa.
Penyusunan Buku Saku Generasi Berani Exploring juga melibatkan berbagai komunitas keluarga dan komunitas bermain dari berbagai wilayah Indonesia, dengan pendampingan dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang pediatri sosial. Melalui pendekatan tersebut, setiap aktivitas dirancang agar sesuai dengan tahapan perkembangan anak, aman dilakukan, serta mampu memperkuat interaksi antara anak dan orang tua.
Benyamin Wuisan, Country Head iNova Pharmaceuticals Indonesia, mengatakan bahwa selama lebih dari lima dekade Betadine telah menjadi bagian dari perjalanan keluarga Indonesia dalam menjaga kesehatan.
“Selama 50 tahun, Betadine telah dipercaya mendampingi keluarga Indonesia dalam memberikan perlindungan kesehatan. Melalui Festival Generasi Berani Exploring dan Gerakan #BiarkanMerekaBerlari, kami ingin menghadirkan lebih banyak ruang bagi anak untuk bermain, bergerak, belajar, dan bereksplorasi, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, dan keluarga dalam membesarkan generasi yang aktif, cakap digital, mencintai budaya, serta memiliki semangat Be Unstoppable,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak dan Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, menjelaskan bahwa bermain merupakan bagian penting dalam proses belajar anak.
“Anak belajar paling baik melalui pengalaman. Bermain, bergerak, dan bereksplorasi membantu mereka membangun rasa ingin tahu, keberanian mencoba hal baru, kemampuan berpikir, serta keterampilan sosial dan emosional. Di era digital, anak juga perlu memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertumbuh melalui pengalaman nyata bersama keluarga dan lingkungannya,” jelasnya.
Festival Generasi Berani Exploring menghadirkan berbagai aktivitas yang memungkinkan anak dan keluarga menikmati pengalaman bermain secara langsung. Selain peluncuran Buku Saku Generasi Berani Exploring, acara ini juga menjadi ruang diskusi antara pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas keluarga, dan para orang tua mengenai pentingnya menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi digital dan aktivitas eksplorasi di dunia nyata.
Widya Safitri, Founder MoM Academy (MoMA), menyambut baik kolaborasi yang melibatkan komunitas parenting dan pegiat permainan tradisional.
*”Saat waktu penggunaan gawai mulai dibatasi, banyak orang tua bertanya, ‘Hari ini bermain apa?’ Melalui Gerakan #BiarkanMerekaBerlari dan Buku Saku Generasi Berani Exploring, kami berharap semakin banyak keluarga mendapatkan inspirasi aktivitas yang sederhana, menyenangkan, sekaligus mendukung tumbuh kembang anak,”* ungkapnya.
Seiring dengan semakin aktifnya anak bermain dan bereksplorasi, kesiapan orang tua dalam menangani luka ringan juga menjadi bagian penting dari pendampingan sehari-hari. Betadine mengingatkan pentingnya memberikan pertolongan pertama yang tepat agar anak dapat kembali beraktivitas dengan nyaman ketika kondisinya telah pulih.
Melalui kampanye ABCD (Ambil Betadine, Cepetan Deh), Betadine juga mengajak orang tua menerapkan langkah 4C dalam penanganan luka ringan sehari-hari, yaitu Chill (tetap tenang), Clean & Disinfect** (membersihkan dan memberikan antiseptik pada luka), Cover (melindungi luka bila diperlukan), dan Comfort (memberikan rasa nyaman kepada anak selama proses pemulihan).
Melalui Festival Generasi Berani Exploring dan Gerakan #BiarkanMerekaBerlari , Betadine berharap semakin banyak keluarga Indonesia yang memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh melalui pengalaman nyata bermain, bergerak, bereksplorasi, dan belajar bersama lingkungan sekitarnya. Semangat tersebut menjadi bagian dari komitmen Betadine selama 50 tahun dalam mendampingi keluarga Indonesia membesarkan generasi yang sehat, percaya diri, tangguh, dan siap menghadapi masa depan.
Untuk memperoleh informasi, edukasi, serta inspirasi aktivitas bermain bersama anak, masyarakat dapat mengikuti kanal media sosial resmi @BetadineIndonesia dan mengunjungi situs resmi Betadine Indonesia. Bersama, mari terus mendukung lahirnya Generasi Berani Exploring, anak-anak yang aktif, percaya diri, mencintai budaya, dan berani mengeksplorasi dunia di sekitarnya.(dhil)










