Koranindopos.com, Jakarta – Ekonomi kreatif semakin diperhitungkan sebagai salah satu penggerak perekonomian Indonesia. Sektor yang bertumpu pada ide, keterampilan, budaya, dan inovasi ini tercatat menyumbang 7,38 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap hingga 27,4 juta tenaga kerja. Kontribusi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam pembukaan World Conference on Creative Economy (WCCE) ke-5 di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, secara resmi membuka konferensi yang berlangsung di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta. Mengangkat tema *Inclusively Creative: Collective Continuity*, WCCE 2026 mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas arah pengembangan ekonomi kreatif di tengah perubahan ekonomi global.
Forum yang diinisiasi Indonesia sejak 2018 itu menjadi ruang pertemuan bagi pemerintah, pelaku industri, kreator, akademisi, komunitas, dan media. Melalui kolaborasi lintas sektor, konferensi ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem kreatif yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
Dalam sambutan Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan melalui Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, ekonomi kreatif ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pembangunan nasional. Pemerintah menilai sektor ini memiliki potensi dalam mendorong inovasi, memperluas kesempatan kerja, serta membuka peluang usaha baru.
“Presiden sangat mementingkan ekonomi kreatif sebagai sumber inovasi, sumber lapangan kerja, dan sumber peluang baru bagi masyarakat. Bagi Indonesia, ekonomi kreatif bukanlah sekadar kegiatan sampingan (side quest), melainkan bagian dari cerita utama sebagai mesin pertumbuhan baru yang berakar kuat dalam rencana pembangunan nasional hingga panggung global,” ujar Rachmat Pambudy.
Besarnya potensi sektor ini juga terlihat dari perdagangan internasional. Berdasarkan data UNCTAD yang dipaparkan dalam konferensi, nilai ekspor barang dan jasa kreatif global mencapai 1,7 triliun dolar AS pada 2024. Angka tersebut memperlihatkan besarnya aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan produk dan layanan berbasis kreativitas.
Bagi Indonesia, tantangannya tidak hanya meningkatkan jumlah pelaku usaha kreatif, tetapi juga memperluas akses pasar, memperkuat perlindungan kekayaan intelektual, dan memastikan nilai ekonomi dari karya dapat dinikmati para penciptanya. Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha Christiawan Nasir, menekankan pentingnya diplomasi untuk menghadapi perubahan iklim, perkembangan ekonomi digital, dan kecerdasan buatan (AI).
“Inilah sebabnya mengapa Presiden Prabowo Subianto telah menjadikan ekonomi kreatif sebagai pilar ketahanan ekonomi nasional kita. Karena hal ini menciptakan lapangan kerja, memberdayakan para pemuda kita, dan membuat ekonomi kita lebih mandiri. Di tengah dunia yang serba tidak pasti, ide dan kreativitas tidak akan pernah habis untuk memajukan ekonomi,” ujar Armanatha Nasir.
WCCE 2026 dihadiri delegasi dari lebih dari 80 negara dan tujuh organisasi internasional. Kegiatan ini juga melibatkan 38 menteri dan perwakilan tingkat tinggi, serta 183 pembicara dan moderator. Jumlah peserta konferensi diperkirakan melampaui 6.000 orang, sementara area Creative Village diproyeksikan menarik sekitar 20.000 pengunjung.
Rangkaian sesi pleno berlangsung pada 22–23 Oktober 2026 dengan 33 sesi diskusi strategis. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya merumuskan langkah bersama bagi masa depan ekonomi kreatif, sekaligus menyemarakkan Bulan Kreasi Nasional menjelang Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober 2026.
Melalui WCCE, Indonesia berupaya memperluas kerja sama internasional agar pertumbuhan ekonomi kreatif tidak hanya diukur dari nilai perdagangan, tetapi juga dari kemampuan sektor ini menciptakan lapangan kerja, memperkuat usaha lokal, dan memberikan kesempatan yang lebih merata bagi para kreator. (RIS/Hend)










