Kementerian Agama RI, BKKBN dan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) sepakat bekerjasama dalam Pencegahan Stunting dari Hulu Kepada Calon Pengantin di Auditorium, Kantor Pusat BKKBN, Jakarta Timur.
JAKARTA, koranindopos.com – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama Kementerian Agama RI dan BRIN menandatangani perjanjian kerja sama dalam Pencegahan Stunting dari Hulu Kepada Calon Pengantin di Auditorium, Kantor Pusat BKKBN, Jakarta Timur,(16/12).
Sekretaris Utama BKKBN, Tavip Agus Rayanto menjelaskan, “Soal stunting ini bukan masalah sepele. Terlebih, di Indonesia angka prevalensi stunting masih cukup tinggi, yakni 27,67 persen. Jumlah tersebut masih di atas standar rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni di bawah 20 persen”, jelas Tavip.
“Stunting berpengaruh pada rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM), rendahnya kecerdasan, rendahnya kemampuan politik, meningkatnya resiko penyakit tidak menular. “Stunting adalah sebuah ancaman pembangunan di masa mendatang karena rendahnya kualitas sumber daya manusia,” tambah Tavip.
Sementara itu, Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo juga mengungkapkan, “Jika kita berbicara tentang stunting maka itu susah diingat oleh masyarakat, maka dari itu kita gunakan Bahasa yang mudah, stunting itu sudah pasti pendek tapi pendek belum tentu stunting dan stunting merugikan bangsa dan negara serta keluarga tentunya. Ada 3 kelemahan stunting yang buat tidak produktif: (1) Pendek,sehingga jika mau jadi TNI, POLRI, Pramugari juga sudah sulit; (2) Intelektual, kemampuan intelektual tidak akan diatas rata-rata pada umumnya; (3) Usia paruh baya sudah sakit-sakitan,” ungkap dokter Hasto.
Terkait maraknya persiapan para calon pengantin yang lebih mementingkan Pra-wedding dibanding Pra-konsepsi menurut dokter Hasto, “Pemeriksaan sejak 3 bulan sebelum nikah itu perlu dilakukan untuk mencegah saat proses kehamilan tidak terjadi janin tumbuh lambat nantinya. Jangan hanya pra-wedding saja sebelum nikah, pra-konsepsi jauh lebih penting dan harganya jauh lebih murah dari pra-wedding”, tegas dokter Hasto.
Nantinya keluarga dapat mengecek kesehatan melalui aplikasi yang dikembangkan oleh BKKBN untuk mencegah kelahiran stunting nantinya. Jika memang terindikasi satu penyakit akan dikirimkan modul sesuai alamat keluarga tersebut”, harap dokter Hasto. (rls/riz))










