koranindopos.com – Jakarta. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika (USD) mengalami depresiasi yang signifikan, bahkan sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang tahun 2023, hampir menembus angka Rp16.000/USD. Hal ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan anggota Komisi XI DPR RI, termasuk Puteri Anetta Komarudin, terkait dampak potensial pada sektor industri di Indonesia.
Puteri Anetta Komarudin berharap bahwa penguatan Dolar terhadap Rupiah tidak akan memberikan dampak signifikan pada sektor industri di tanah air. Selama masa reses DPR, ia menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk mengatasi kondisi ini.
“Kemarin kita menekankan kepada Bank Indonesia, bersama dengan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan, harus terus berkoordinasi agar penguatan Dolar ini tidak semakin berdampak pada sektor industri kita,” ujar Puteri Anetta Komarudin.
Diketahui bahwa banyak industri, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), masih bergantung pada komoditas impor. Oleh karena itu, fluktuasi nilai mata uang dapat berdampak signifikan pada biaya produksi dan harga akhir produk. Untuk mengatasi hal ini, Puteri Anetta Komarudin merujuk pada UU Nomor 4 tahun 2023 tentang Pengembangan Penguatan Sektor Keuangan (UU PPSK) yang memberikan tanggung jawab kepada Bank Indonesia dalam mendukung sektor UMKM.
Puteri Anetta Komarudin mendorong Bank Indonesia untuk mendukung produksi komoditas substitusi yang dapat mengurangi ketergantungan pada impor barang-barang tertentu. Salah satu contohnya adalah kedelai, yang masih menjadi bahan baku utama makanan seperti tahu dan tempe yang sangat populer di Indonesia.
“Kita mendorong Bank Indonesia untuk mendukung produksi komoditas yang dapat menggantikan barang-barang yang selama ini kita masih impor. Ini akan memiliki dampak signifikan pada kekuatan nilai tukar Rupiah,” lanjutnya.
Puteri Anetta Komarudin juga menyoroti komoditas lain seperti gandum dan gula, yang juga masih sangat bergantung pada impor. Selain sektor makanan dan minuman, industri lain yang akan merasakan dampak kenaikan harga bahan baku impor termasuk industri farmasi, petrokimia, tekstil, dan bahkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
Upaya ini diharapkan akan membantu menjaga stabilitas sektor industri Indonesia dan mengurangi dampak fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap perekonomian nasional. Kekhawatiran akan depresiasi Rupiah masih menjadi perhatian utama, dan berbagai pihak bekerja keras untuk meminimalkan risikonya. (hai)










