koranindopos.com – Jakarta. Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pada Senin (17/6) bertepatan dengan perayaan Idul Adha 1445 H, melepas sebanyak 988 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) melalui Program Government to Government (G to G). Acara pelepasan yang berlangsung di El Royal Kelapa Gading, Jakarta, diawali dengan ucapan selamat Idul Adha dan permintaan maaf dari Kepala BP2MI, Benny Ramdhani, atas segala kekurangan selama proses pelayanan kepada CPMI.
“Hari ini kita lepas bersamaan untuk yang bekerja di Jepang dan Korea dan jumlahnya cukup besar. Langsung hadir juga dari Kedutaan Besar Jepang,” kata Benny. Pelepasan ini mencakup 149 PMI yang akan bekerja di Korea Selatan, 309 PMI di Jepang, serta 530 CPMI yang mengikuti orientasi pra pemberangkatan secara luring dan daring.
Dalam kesempatan yang sama, Mr. UEDA Hajime, Minister of Embassy of Japan, turut hadir dan memberikan motivasi kepada para PMI. “Tahun lalu kita merayakan 45 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang, saya berharap kalian semua menjadi jembatan antara Indonesia dan Jepang dan dapat berkontribusi terhadap kedua negara,” ungkap Ueda.
Ueda juga menjelaskan bahwa setibanya di Jepang, para pekerja migran akan mengikuti pelatihan selama enam bulan sebelum ditempatkan di pusat kesehatan atau rumah sakit yang tersebar di berbagai daerah di Jepang. “Sebelumnya kalian telah menyelesaikan proses pelatihan di Indonesia yang panjang dan akan segera berangkat ke Jepang. Pasti ada kecemasan saat memulai perjalanan memasuki dunia baru. Memang sulit bekerja di Jepang yang membutuhkan kedisiplinan, sehingga kalian bisa merasa enggan pada awalnya. Namun, bekerja samalah dengan senior di sana, dan saya yakin dalam 3-4 tahun kalian akan mendapatkan sertifikat nasional,” jelas Ueda.
Benny Ramdhani menambahkan bahwa BP2MI terus berdiskusi dengan Jepang mengenai tiga permintaan penting. “Pertama, tempat pelatihan diperluas, jangan hanya berada di Pulau Jawa agar anak-anak di luar Jawa juga mendapatkan kesempatan untuk bekerja ke luar negeri. Kedua, penambahan kuota, dan ketiga adalah penambahan sektor jabatan lainnya,” imbuh Benny.
“Permintaan ini sudah saya sampaikan sejak tahun 2020, dan tentu mereka juga membutuhkan waktu untuk memprosesnya. Namun, kita akan terus berusaha. Kita ingin menunjukkan kepada negara-negara luar, bahwa jika berbicara tentang pekerja Indonesia, mereka adalah orang-orang yang memiliki keahlian, kompetensi, dan kemampuan berbahasa,” tutup Benny.
Dengan pelepasan ini, BP2MI berharap para PMI dapat menjalankan tugasnya dengan baik di negara tujuan dan sekaligus memperkuat hubungan diplomatik serta kerja sama antarnegara. (why)










