Koranindopos.com – Jakarta. Nama Prilly Latuconsina sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah sebuah potongan video dirinya yang membahas fenomena sosial tentang wanita mapan viral. Pernyataan aktris kelahiran 15 Oktober 1996 ini menyoroti realitas bahwa jumlah wanita mapan di Indonesia semakin meningkat dibandingkan pria, yang dianggap berkaitan erat dengan fenomena sosial seperti penurunan angka pernikahan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pernikahan di Indonesia terus mengalami penurunan. Pada tahun 2022, tercatat penurunan sebesar 128 ribu pernikahan dibandingkan tahun sebelumnya. Rinciannya, penurunan terbesar terjadi di Jawa Barat dengan 29 ribu kasus, diikuti Jawa Tengah dengan 21 ribu, Jawa Timur sebanyak 13 ribu, dan DKI Jakarta dengan 4 ribu.
“Sekarang banyak cewek independen tapi cowok mapan dikit. Itu data valid loh,” ucap Prilly Latuconsina dalam video tersebut.

Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya jumlah perempuan yang berkarier dan memiliki pendidikan tinggi. Data statistik PDDikti tahun 2023 mencatat bahwa partisipasi perempuan di perguruan tinggi meningkat hingga 51%. Bahkan, persentase perempuan yang bekerja sebagai tenaga profesional mencapai 49,53%.
Kemapanan juga disebut sebagai salah satu faktor yang memengaruhi perceraian di Indonesia. Laporan Statistik Indonesia 2023 menunjukkan bahwa meskipun angka perceraian menurun 10,2% sejak pandemi, sebanyak 76% dari total 463.000 kasus perceraian merupakan cerai gugat yang diajukan oleh pihak istri.
Hal ini menandakan bahwa banyak perempuan yang merasa cukup mandiri secara finansial untuk mengambil keputusan besar dalam hidupnya, termasuk perceraian.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “mapan” berarti mantap atau tidak goyah. Dalam konteks keuangan, definisi ini sering diartikan sebagai kemampuan untuk memiliki stabilitas finansial.
Wanita mapan sering diidentikkan dengan istilah independent woman. Menurut APA Dictionary of Psychology, independensi mencakup tiga aspek utama:
1. Self-Reliance: Bertanggung jawab atas setiap keputusan dan tindakan.
2. Resourceful: Memanfaatkan sumber daya, kompetensi, dan potensi diri.
3. Coachable: Menerima masukan dan kritik dengan bijak, namun tetap memegang kendali atas keputusan pribadi.
Pernyataan Prilly Latuconsina mengenai wanita mapan membuka diskusi yang lebih luas tentang bagaimana peran perempuan dalam masyarakat terus berkembang. Peningkatan jumlah wanita yang mandiri secara finansial menjadi salah satu indikator positif dalam perkembangan sosial, meskipun turut membawa perubahan dalam aspek tradisional seperti pernikahan.
“Cari pasangan yang selalu happy lihat kesuksesan kita. Bukan yang insecure dan ninggalin kita,” kata Prilly.
“Kita itu harus cari pasangan yang setara. Bukan materi ya, tapi pemikiran,” tambahnya.
Memahami fenomena ini secara holistik dapat membantu kita melihat bagaimana perubahan sosial memengaruhi hubungan personal dan dinamika keluarga di Indonesia. Fenomena wanita mapan tidak hanya menggambarkan keberhasilan individu, tetapi juga tantangan dan peluang dalam masyarakat modern.










