koranindopos.com – Jakarta. Amerika Serikat (AS) telah lama menjadi penyumbang terbesar pendanaan untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengan kontribusi sebesar 14,53 persen dari total dana WHO. Dana tersebut selama ini banyak digunakan untuk pengendalian penyakit, termasuk eradikasi polio dan penanganan wabah lainnya. Namun, keputusan kontroversial yang pernah diambil oleh Presiden AS Donald Trump untuk menarik diri dari WHO bisa berdampak signifikan, terutama pada penanganan wabah di negara-negara berkembang.
Dalam responnya terhadap kemungkinan keluarnya AS dari WHO, Menteri Kesehatan Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa hal tersebut tidak akan berdampak besar bagi pendanaan Indonesia. “Nggak akan berdampak pada pendanaan Indonesia, tetapi pada WHO pasti berdampak. Kita juga nggak terlalu banyak dapat dari AS,” ujar Menkes Budi saat ditemui di Gedung Sujudi, Kementerian Kesehatan RI, Rabu (22/1/2025).
Meski demikian, menurut pakar global health security, Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia, Indonesia memang lebih banyak mendapatkan dana hibah dari negara lain, seperti China dan negara-negara Uni Eropa. Oleh karena itu, menurutnya, Indonesia tidak terlalu terpengaruh jika AS menarik diri dari WHO.
Namun, Dicky menambahkan, meskipun Indonesia tidak terlalu bergantung pada dana AS, negara tersebut bisa menghadapi kerugian besar jika memilih untuk mengisolasi diri. Mengacu pada pengalaman kasus COVID-19, AS tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus dan kematian tertinggi akibat pandemi tersebut. Ini menunjukkan bahwa negara ini tetap membutuhkan bantuan dan koordinasi internasional, termasuk dalam distribusi vaksinasi dan deteksi penyakit, di mana peran WHO sangat penting.
Selain itu, Dicky juga menyoroti masalah penyakit lain seperti TBC dan HIV, yang meskipun kasusnya lebih rendah di AS dibandingkan dengan negara berkembang, tetap berisiko berkembang menjadi masalah global. Resisten obat terhadap penyakit seperti TBC dan HIV, serta masalah resistensi antibiotik yang semakin meningkat, merupakan ancaman serius bagi kesehatan global. WHO, kata Dicky, memiliki peran vital dalam mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan (one health), untuk menangani ancaman-ancaman tersebut secara global.
Dengan mengingat bahwa mikroba yang resisten dapat menyebar antar negara melalui perjalanan internasional, Dicky menegaskan bahwa peran WHO dalam standar pengobatan dan penanganan penyakit global sangat krusial, baik bagi AS maupun negara lainnya, termasuk Indonesia.(dhil)










