
JAKARTA, koranindopos.com – Anggota Fraksi PAN DPR RI Pangeran Khairul Saleh bereaksi keras terhadap pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terkait ciri penceramah radikal. Menurutnya sikap dan pernyataan BNPT yang merilis nama-nama penceramah agama yang tidak boleh diundang karena dicap radikal memunculkan kegaduhan baru di tengah masyarakat. Sebelumnya, pernyataan BNPT tersebut juga langsung mendapat kritik pedas dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
“Menurut saya tidak sepatutnya terjadi. BNPT mestinya tidak lagi terkesan memberikan polemik baru terhadap umat Islam, khususnya dengan isu radikalisme,” tegas Pangeran dalam keterangan persnya, Jumat (11/3). Menurut dia, BNPT seharusnya lebih berhati-hati mengeluarkan pernyataan di muka publik. Terlebih ini bukan kali pertama lembaga tersebut membuat gaduh, karena sebelumnya pernah menyebut ratusan pesantren terafiliasi jaringan terorisme.
Pangeran menilai klaim BNPT soal ciri penceramah radikal tidak tepat. Hal tersebut malah membuat umat Islam menjadi resah. “Mestinya tidak boleh ada pernyataan dipublikasikan tanpa argumentasi faktual menjadi sandarannya, khususnya berkenaan dengan isu dan makna radikalisme atau khalifah dan lain-lainnya itu,” ujar Pangeran. Dia berharap sinergi dan kerja sama antara BNPT dan MUI segera diperkuat, agar tidak saja merumuskan kesepakatan bersama tapi juga menghindari kesalahpahaman.
Wakil Ketua Komisi III DPR RI itu berharap tercipta formulasi dan strategi yang tepat antar berbagai lembaga dan kelompok masyarakat. Dengan begitu menanggulangi bahaya terorisme tidak hanya menjadi tugas BNPT saja, tetapi menjadi tanggungjawab semua pihak. Pangeran juga mengajak masyarakat bersatu mengantisipasi penetrasi ideologi terorisme. Salah satu caranya mencegah rasa saling curiga mencurigai antar umat beragama. “Isu radikalisme jangan sampai memutus rantai penguat persatuan kita sendiri melalui stigmatisasi dan distorsi narasi yang dinilai menyudutkan umat Islam,” tutur Pangeran.(hai)









