koranindopos.com – Jakarta. Sebuah peristiwa memilukan terjadi di kawasan pendakian Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa. Seorang pendaki wanita menjadi korban pencabulan oleh sesama pendaki saat dalam kondisi hipotermia. Kejadian ini sontak mengejutkan komunitas pendaki dan masyarakat luas, serta memunculkan keprihatinan atas keselamatan perempuan di alam terbuka.
Insiden tersebut dilaporkan terjadi saat korban dalam kondisi lemah akibat suhu dingin ekstrem yang dialaminya di jalur pendakian. Menurut informasi, korban tidak sadarkan diri akibat hipotermia saat pelaku melakukan tindakan bejatnya.
Pelaku diduga merupakan pria yang termasuk dalam rombongan pendakian yang sama dengan korban. Tindakan asusila itu terjadi saat rombongan berhenti di sebuah pos untuk bermalam. Ketika korban dalam keadaan tidak berdaya, pelaku mengambil kesempatan untuk melakukan pelecehan seksual.
Rekaman video yang memperlihatkan detik-detik usai kejadian menyebar di media sosial dan memicu kemarahan publik. Aparat kepolisian pun bergerak cepat menyelidiki kasus ini dan telah mengamankan pelaku untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Kapolres Gowa membenarkan adanya laporan kasus pelecehan terhadap pendaki wanita di Gunung Bawakaraeng. Penyidik telah mengumpulkan bukti dan meminta keterangan sejumlah saksi. Korban juga telah menjalani visum dan mendapat pendampingan psikologis.
“Kami tindak lanjuti laporan ini dengan serius. Saat ini pelaku sedang diperiksa dan korban mendapat perlindungan,” ujar perwakilan kepolisian.
Komunitas pendaki di Sulawesi Selatan mengecam keras tindakan tersebut. Mereka menegaskan bahwa pendakian adalah aktivitas yang mengedepankan solidaritas, keselamatan, dan etika. Tindakan pelaku dinilai mencoreng nilai-nilai luhur para pendaki dan menodai semangat kebersamaan di alam bebas.
“Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Pelaku harus dihukum setimpal. Tidak ada tempat untuk predator seksual di komunitas kami,” ujar salah satu anggota komunitas pendaki lokal.
Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan, edukasi, serta sistem keamanan bagi para pendaki, terutama perempuan. Banyak pihak mendorong adanya peningkatan perlindungan serta pengawasan selama kegiatan pendakian, terutama saat kondisi darurat atau malam hari.(dhil)










