Koranindopos.com – JAKARTA – Pemerintah Argentina tengah menyelidiki kemungkinan wilayahnya menjadi sumber awal penyebaran wabah Hantavirus yang terjadi di kapal pesiar mewah MV Hondius. Wabah tersebut dilaporkan telah menyebabkan beberapa korban jiwa dan memicu perhatian internasional.
Kementerian Kesehatan Argentina menyatakan akan mengirim tim ahli ke wilayah paling selatan negara itu, yaitu Ushuaia, untuk menangkap dan menguji hewan pengerat yang diduga menjadi pembawa virus.
Wilayah Ushuaia dipilih karena sebelumnya dikunjungi oleh pasangan asal Belanda yang kemudian meninggal akibat infeksi hantavirus setelah melakukan perjalanan dengan kapal pesiar tersebut.
Direktur Jenderal World Health Organization, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan bahwa hingga 6 Mei telah ditemukan delapan kasus terkait wabah ini. Dari jumlah tersebut, tiga kasus telah dipastikan positif hantavirus melalui pemeriksaan laboratorium.
Virus yang diduga menjadi penyebab adalah virus Andes, salah satu jenis hantavirus yang ditemukan di kawasan Amerika Selatan. Virus ini diketahui dapat menyebabkan sindrom paru hantavirus, penyakit serius yang menyerang sistem pernapasan dan memiliki tingkat kematian cukup tinggi.
Sebagai bagian dari upaya penanganan internasional, Argentina juga akan mengirim sampel RNA virus Andes beserta pedoman diagnosis dan pengobatan ke sejumlah laboratorium di:
- Spanyol
- Senegal
- Afrika Selatan
- Belanda
- Inggris
Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penelitian dan pengawasan terhadap penyebaran virus.
WHO menegaskan bahwa risiko penularan kepada masyarakat umum masih tergolong rendah. Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, menjelaskan bahwa penularan antarmanusia pada hantavirus varian Andes membutuhkan kontak fisik yang sangat dekat.
Menurut Maria, penularan biasanya terjadi dalam kondisi seperti:
- Berbagi kamar tidur
- Berbagi kabin kapal
- Kontak intens saat perawatan medis
Karakteristik tersebut sangat berbeda dengan COVID-19 maupun influenza yang dapat menyebar melalui udara dalam interaksi sosial biasa.
Karena itu, WHO menilai penyebaran hantavirus berlangsung jauh lebih lambat dibanding pandemi COVID-19 yang pernah melanda dunia.
WHO bersama sejumlah negara kini terus melakukan pelacakan terhadap penumpang yang sempat turun di Pulau Saint Helena sebelum kapal melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Verde.
Di Afrika Selatan, otoritas kesehatan telah mengidentifikasi sedikitnya 65 orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien. Selain itu, terdapat 12 kontak tambahan yang tersebar di beberapa negara lain dan kini berada dalam pemantauan kesehatan.
Upaya pelacakan ini penting dilakukan untuk mencegah kemungkinan penyebaran lebih luas, meskipun risiko penularannya relatif rendah.
Meski menghadapi situasi medis yang serius, suasana di atas kapal MV Hondius dilaporkan tetap terkendali. Salah satu penumpang, Kasem Hato, mengatakan bahwa kapten kapal secara rutin memberikan informasi terbaru kepada seluruh penumpang.
Para penumpang disebut tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan tenang sambil menerapkan langkah pencegahan seperti menjaga jarak dan memakai masker.
“Orang-orang menanggapi situasi ini dengan serius tetapi tanpa kepanikan,” ujar Hato.
Menurutnya, sebagian besar penumpang menghabiskan waktu dengan membaca, menonton film, dan beristirahat sambil menunggu perkembangan lebih lanjut.
Kasus hantavirus di MV Hondius kembali mengingatkan dunia terhadap ancaman penyakit zoonosis yang berasal dari hewan. Meski demikian, para ahli kesehatan menekankan bahwa hantavirus tidak menyebar secepat COVID-19 sehingga masyarakat diminta tetap waspada tanpa kepanikan berlebihan.
Penyelidikan yang dilakukan Argentina bersama WHO diharapkan dapat membantu menemukan sumber awal penyebaran virus sekaligus memperkuat langkah mitigasi agar wabah tidak berkembang lebih luas di berbagai negara.(Dhil)










