koranindopos.com – Jakarta. Penentuan awal Ramadan 2025 berpotensi berbeda antara beberapa organisasi Islam di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menjelaskan faktor utama perbedaan ini berkaitan dengan metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Menurut peneliti BRIN, perbedaan awal puasa disebabkan oleh metode rukyatul hilal (pengamatan bulan) dan hisab (perhitungan astronomi) yang digunakan oleh berbagai organisasi Islam di Indonesia. Metode rukyat mengharuskan hilal dapat terlihat secara kasat mata, sementara metode hisab menggunakan perhitungan astronomis yang memastikan posisi bulan sudah memenuhi kriteria tertentu.
- Ketinggian Hilal
- Berdasarkan perhitungan astronomi, ketinggian hilal di beberapa wilayah Indonesia pada saat maghrib di tanggal yang diperkirakan sebagai akhir Syaban masih berada di batas minimal visibilitas. Ini berarti ada kemungkinan hilal tidak terlihat di beberapa lokasi.
- Kriteria Penetapan Hilal
- Organisasi seperti Muhammadiyah biasanya menggunakan metode hisab yang lebih memastikan bahwa bulan baru telah memasuki kriteria wujudul hilal. Jika hilal sudah berada di atas ufuk, maka keesokan harinya dianggap sebagai awal Ramadan.
- Sementara Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah melalui Kementerian Agama mengacu pada metode rukyat. Jika hilal tidak terlihat, maka bulan Syaban akan digenapkan menjadi 30 hari.
- Perbedaan Referensi Global
- Beberapa negara dan organisasi Islam internasional juga memiliki metode sendiri dalam menentukan awal bulan hijriah, yang kadang berbeda dengan metode yang digunakan di Indonesia. Ini bisa menyebabkan perbedaan dalam awal Ramadan antara Indonesia dan negara lain.
Jika terjadi perbedaan dalam penetapan awal Ramadan, umat Islam di Indonesia akan menghadapi situasi yang serupa dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana ada sebagian yang berpuasa lebih awal dibandingkan lainnya. Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tetap menghormati perbedaan dan menjalankan ibadah dengan penuh kekhusyukan.
Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan 2025. Keputusan resmi akan diumumkan setelah sidang tersebut berlangsung, yang akan mempertimbangkan hasil rukyatul hilal dari berbagai titik pengamatan di Indonesia.
Dengan adanya potensi perbedaan ini, masyarakat diharapkan tetap mengikuti keputusan organisasi keagamaannya masing-masing dan menjaga persatuan dalam menjalankan ibadah puasa.(dhil)










