Koranindopos.com , YOGYAKARTA – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan industri cerutu sebagai salah satu komoditas premium berorientasi ekspor yang mampu meningkatkan devisa negara sekaligus mendorong kesejahteraan petani tembakau.
Hal tersebut disampaikan Bamsoet saat menghadiri PERIKHSA Bamsoet Cigar Gathering yang bekerja sama dengan BIN Cigar di Yogyakarta, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Bamsoet, Indonesia selama ini telah dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau berkualitas dunia. Berbagai daerah seperti Jember, Besuki, Deli, Lombok, Temanggung, hingga kawasan Vorstenlanden di Yogyakarta dan Jawa Tengah menghasilkan tembakau dengan karakteristik yang diakui pasar internasional.
Bahkan, daun pembungkus (wrapper) asal Besuki telah lama digunakan sebagai bahan baku berbagai cerutu premium dunia karena memiliki tekstur tipis, elastis, halus, dan cita rasa yang khas.
“Banyak orang mengenal Indonesia sebagai penghasil tembakau berkualitas, tetapi belum banyak yang menyadari bahwa kita memiliki potensi menjadi salah satu pemain utama industri cerutu premium dunia. Yang perlu dibangun sekarang adalah keberanian memperkuat merek nasional, meningkatkan kualitas secara konsisten, serta mengubah orientasi dari penjual bahan baku menjadi produsen produk premium bernilai tambah tinggi,” ujar Bamsoet.
Bamsoet mengungkapkan Indonesia saat ini telah menjadi salah satu eksportir cerutu dunia dengan pasar utama antara lain Jerman, Jepang, Belgia, Amerika Serikat, dan Belanda.
Nilai ekspor cerutu Indonesia pada 2024 tercatat mencapai sekitar US$62,6 juta, sementara ekspor nonmigas nasional sepanjang 2025 mencapai US$269,84 miliar. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan peluang industri cerutu untuk memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional.
Ia menilai pengembangan industri cerutu tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi sektor pertanian, industri pengolahan, UMKM, hingga pariwisata.
Sebagai Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Indonesia, Bamsoet mengatakan Indonesia perlu mengubah orientasi industri tembakau dari sekadar pemasok bahan baku menjadi produsen produk premium bernilai tambah tinggi.
Ia juga mendorong pengembangan konsep cigar tourism atau wisata cerutu yang mengintegrasikan kunjungan ke perkebunan tembakau, pabrik cerutu, museum, hingga pengalaman menikmati produk premium sebagaimana telah diterapkan di sejumlah negara.
“Kita harus melihat cerutu sebagai bagian dari ekonomi kreatif berbasis pertanian, industri, budaya, dan pariwisata. Ketika seluruh mata rantai ini terhubung, manfaat ekonominya akan dirasakan petani, pelaku UMKM, eksportir, daerah, hingga negara,” katanya.
Bamsoet menilai pemerintah perlu memperkuat dukungan terhadap industri cerutu melalui penyederhanaan prosedur ekspor, promosi dagang yang lebih agresif, fasilitasi sertifikasi internasional, serta penguatan riset varietas tembakau unggul.
Menurutnya, langkah tersebut akan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global yang semakin kompetitif, sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk agar mampu memenuhi standar pasar premium internasional.
“Kalau kita mampu menjaga kualitas, membangun merek yang kuat, memperluas jaringan pemasaran, serta memanfaatkan setiap peluang perdagangan internasional, saya optimistis cerutu Indonesia akan menjadi salah satu ikon ekspor nasional. Tembakau Nusantara memiliki kualitas kelas dunia, tinggal bagaimana kita mengelolanya menjadi produk premium yang membawa nama Indonesia semakin dihormati di pasar global,” pungkas Bamsoet. (hai)






