
JAKARTA, koranindopos.com – Pemprov DKI melalui Dinas Pendidikan DKI membuka tiga sekolah yang sebelumnya dihentikan sementara kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) sementaranya. Sebelumnya, Dinas Pendidikan DKI mengakui sudah ada 15 sekolah yang ditutup karena kasus positif. Baik itu karena kasus positif oleh peserta didik maupun pendidik.
Kasubag Humas Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Taga Radja Gah menuturkan, sebelumnya memang ada 15 sekolah dengan 19 orang positif Covid-19. ”Nah, dari 15 sekolah itu, ada tiga sekolah yang sudah mulai PTM kembali. Yakni, SMAN 71 Jakarta, SMK Asisi, dan SMKS Malaka Jakarta. Hari ini sudah melaksanakan PTM terbatas kembali,” terangnya.
Menurut Taga, sekolah kembali diizinkan melaksanakan PTM karena penutupan sekolah karena kasus positif Covid-19 hanya dilakukan lima hari. Meski PTM sudah dibuka, dia menyebutkan kasus positif dari ketiga sekolah itu masih belum diizinkan mengikuti PTM terbatas. ”Yang terpapar masih isolasi mandiri (isoman). Standarnya kan dua minggu,” ujarnya.
Menurut Taga, sebelum membuka kembali PTM di sekolah, dia menyebutkan terlebih dahulu dilakukan tracing terhadap kontak erat. Dari ketiga sekolah itu, lanjutnya, alhamdulilah hasil PCR, semuanya negatif. Selain itu, dia juga menyebutkan untuk keamanan, sekolah juga sudah menyemprot desinfektan sebelum pelaksanaan kembali PTM terbatas. ”Sekolah juga dibuka kembali berdasar hasil rekomendasi Dinkes setempat, terutama puskesmas terdekat. Jadi nggak bisa sekolah main buka-buka saja,” tambahnya. Jadi, dengan dibukanya tiga sekolah, maka di Jakarta ada sebanyak 12 sekolah yang ditutup karena kasus positif Covid-19 hingga kemarin (17/1).
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria menuturkan, dari 15 sekolah yang sebelumnya ditutup karena kasus Covid-19 tidak ada yang varian Omicron. ”Sampai hari ini, belum kasus Omicron di sekolah. Mudah-mudahan tidak pernah ada,” ujarnya.
Riza menyebutkan, dari 15 sekolah itu ada beberapa sekolah yang sudah normal kembali atau membuka kembali PTM terbatas. Lebih lanjut, Riza menyebutkan, DKI masih terus melakukan monitoring dan pengawasan terhadap semua jenjang dengan bidang masing-masing. Untuk pengetatan kegiatan di sekolah, dia menyebutkan masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat.
”Tanggung jawab kita semua untuk memperhatikan anak-anak. Kita sudah dua tahun melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Tidak mudah, ini menyangkut kualitas pendidikan anak-anak kita, SDM bangsa kita. Jadi, penting untuk terus memastikan hadirnya pendidikan tatap muka di sekolah,” imbuhnya. (wyu/brg)









