
Produk olahan rumput laut umumnya digunakan oleh industri pangan dan non-pangan. Dalam industri pangan, produk formulasi rumput laut digunakan sebagai bahan tambahan pangan pada bakso, nugget, sirup, es krim, yogurt, jus, dan jeli. Pada industri non-pangan, rumput laut dapat digunakan untuk produksi cat, tekstil, pasta gigi, kosmetik seperti lotion, sabun, dan sampo.
Produk olahan rumput laut juga telah digunakan di dalam industri farmasi, misalnya untuk pembuatan cangkang kapsul dan media agar. Bahkan, limbah dari dapat dimanfaatkan untuk bahan pupuk, media tanaman serta bata ringan.

Terkait upaya mendorong hilirisasi industri pengolahan rumput laut, beberapa waktu lalu, Plt. Dirjen Industri Agro beserta jajarannya melakukan kunjungan kerja di PT Hydrocolloid Indonesia, Bogor, Jawa Barat. Perusahaan pengolahan rumput laut yang telah beroperasi sejak tahun 2012 ini hasil produksinya sebesar 80% untuk mengisi pasar ekspor, khususnya ke Jepang, Rusia, Amerika Serikat, Denmark, dan negara-negara Amerika Selatan.
“Artinya, kita punya daya saing dan pasar ekspor olahan rumput laut ini masih menjanjikan. Apalagi, Indonesia punya potensi besar dengan ketersediaan bahan baku rumput lautnya, Pada tahun 2020, produksi rumput laut kering sekitar 376 ribu ton, volume produksi 26.611 ton dengan nilai ekspor mencapai USD96,19 dan terus meningkat. Penghasil utamanya dari Provinsi Maluku, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan”.ungkap Putu melalui siaran persnya.
Putu pun menjelaskan, produk olahan rumput laut di Indonesia dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni agar-agar dan karaginan. Secara global, saat ini Indonesia menempati posisi ke-7 untuk negara eksportir agar-agar dan peringkat ke-6 sebagai negara eksportir karaginan.
Plant Manager PT Hydrocolloid Indonesia, Budhi Sugiharto menyampaikan, pihaknya saat ini fokus untuk memproduksi olahan rumput laut berupa karaginan yang digunakan untuk industri pangan. Tetapi tidak menutup kemungkinan, perusahaan lokal ini akan mengembangkan inovasi dalam rangka menambah diversifikasi produknya guna memenuhi kebutuhan industri lainnya.
“Dengan basis produksi food grade, kami menerapkan standar yang berlaku dengan memiliki berbagai sertifikasi nasional dan internasional, seperti Halal, Kosher, dan FSSC22000. Kami yakin, produk olahan rumput laut asal Indonesia mampu bersaing di kancah global,” tuturnya.
Oleh karena itu, dalam upaya memacu produktivitas industri pengolahan rumput laut, Budhi berharap kepada pemerintah dapat menerbitkan regulasi atau menjalankan kebijakan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif. Misalnya, perlu menjaga ketersediaan bahan baku, kestabilan harga rumput laut, dan adanya integrasi sektor hulu-hilir untuk memperkuat rantai pasoknya.
“Menurut kami, kunci keberlangsungan usaha industri pengolahan rumput laut, salah satunya adalah tata niaga rumput laut yang baik. Kalau dari segi kualitas, rumput laut kita bisa bersaing. Selain itu, kalau dari segi teknologinya, proses ekstraksi karaginan kita sudah menguasai,” ujarnya.









