Koranindopos.com – Jakarta – Harga Bitcoin kembali menembus level psikologis US$65.000 setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan yang lebih besar dari perkiraan. Sentimen positif tersebut mendorong reli aset berisiko, termasuk pasar kripto, meski pelaku industri mengingatkan bahwa penguatan ini belum sepenuhnya ditopang oleh fundamental yang kuat.
Data ekonomi menunjukkan Consumer Price Index (CPI) Juni melambat menjadi 3,5% secara tahunan dari 4,2% pada Mei. Sementara itu, Producer Price Index (PPI) juga turun menjadi 5,5% dari sebelumnya 6,0%. Kondisi tersebut memunculkan harapan bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat berpotensi menjadi lebih longgar.
Pada 15 Juli, Bitcoin berhasil kembali diperdagangkan di atas level US$65.000 setelah beberapa hari berada di bawah angka tersebut. Kenaikan harga juga memicu short squeeze dengan nilai likuidasi sekitar US$60 juta hingga US$77 juta, di mana sekitar 90 persen berasal dari posisi short yang sebelumnya memperkirakan harga Bitcoin akan melemah.
Namun, CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengingatkan bahwa investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada angka inflasi yang melandai, tetapi juga memahami faktor yang menyebabkan penurunan tersebut.
“Pasar merespons positif data inflasi Amerika Serikat karena dianggap membuka peluang kebijakan moneter yang lebih longgar. Namun, penurunan inflasi Juni sebagian besar dipengaruhi oleh melemahnya harga energi selama periode gencatan senjata di Timur Tengah. Ketika faktor tersebut mulai berbalik arah, risiko inflasi juga berpotensi kembali meningkat,” ujar Yudho.
Menurut FLOQ, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi arah pasar dalam beberapa pekan mendatang.
Amerika Serikat diketahui kembali memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Iran serta mengenakan levy sebesar 20 persen terhadap kargo yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari kebijakan keamanan.
Karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia, gangguan terhadap kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi global.
Yudho menjelaskan, kenaikan harga minyak dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi sehingga ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan moneternya menjadi lebih terbatas.
“Kalau harga minyak kembali naik, dampaknya tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga biaya logistik, transportasi, hingga harga berbagai kebutuhan pokok. Investor perlu melihat hubungan antar faktor tersebut, bukan hanya bereaksi terhadap satu data ekonomi,” jelasnya.
FLOQ mencatat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed masih relatif konservatif.
Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September memang turun ke kisaran 54–63 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, pasar masih memperkirakan peluang sekitar 76 persen bahwa tidak akan ada pemangkasan suku bunga sepanjang 2026.
Di sisi lain, sentimen investor kripto juga belum sepenuhnya pulih. Crypto Fear & Greed Index masih berada di level 29 atau kategori Fear, meskipun Bitcoin telah bangkit sekitar 29 persen dari titik terendah yang tercatat pada 5 Juli.
Menurut FLOQ, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan Bitcoin saat ini lebih mencerminkan pemulihan sentimen jangka pendek dibandingkan dimulainya tren bullish baru.
Yudho menilai level US$65.000 menjadi area penting yang harus dipertahankan.
“Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut dengan dukungan volume beli yang kuat, peluang melanjutkan tren kenaikan tetap terbuka. Namun apabila kembali turun di bawah US$62.000, investor perlu mengantisipasi potensi koreksi menuju kisaran US$58.000 hingga US$59.000,” katanya.
Selain faktor makroekonomi, FLOQ juga menyoroti pergerakan dana investor institusi yang masih belum stabil.
ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat sempat mencatat outflow sebesar US$424,7 juta pada 13 Juli, menjadi arus keluar terbesar sepanjang bulan. Namun sehari kemudian, arus dana kembali berbalik dengan inflow sekitar US$181 juta, dipimpin oleh iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock sebesar US$138,9 juta.
Meski demikian, data on-chain masih menunjukkan tren akumulasi Bitcoin yang berlanjut, sementara volume perdagangan di centralized exchange (CEX) meningkat sekitar 15,3 persen, menjadi kenaikan pertama dalam lima bulan terakhir.
FLOQ juga menilai perkembangan regulasi di Jepang berpotensi menjadi katalis positif jangka panjang. Persetujuan awal terhadap rancangan undang-undang yang mengklasifikasikan aset kripto sebagai instrumen keuangan dinilai dapat membuka peluang hadirnya ETF Bitcoin spot domestik di negara tersebut.
Selain itu, pembahasan CLARITY Act di Amerika Serikat tetap menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan kepastian regulasi yang dibutuhkan investor institusi.
Edukasi dan Manajemen Risiko Tetap Prioritas
Menutup analisanya, Yudho mengingatkan bahwa volatilitas merupakan karakter utama pasar aset digital sehingga investor perlu mengedepankan edukasi dan manajemen risiko.
Ia menilai investor pemula sebaiknya tidak menganggap kenaikan harga sebagai sinyal untuk langsung membeli aset kripto, melainkan memahami faktor-faktor fundamental yang memengaruhi pergerakan pasar, mulai dari inflasi, kebijakan bank sentral, kondisi geopolitik, hingga regulasi.
Selain itu, investor juga perlu mengenali profil risikonya masing-masing agar keputusan investasi sesuai dengan tujuan keuangan jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren sesaat atau terdorong rasa takut ketinggalan momentum (FOMO).
“Bagi investor pemula, kenaikan harga sering kali memunculkan keinginan untuk segera ikut masuk ke pasar. Padahal, yang lebih penting adalah memahami alasan di balik pergerakan tersebut. Ketika seseorang mengerti bagaimana inflasi, kebijakan moneter, regulasi, dan kondisi global memengaruhi pasar, keputusan yang diambil akan lebih rasional dan tidak hanya didasarkan pada momentum sesaat,” tutup Yudho.(dhil)










