koranindopos.com – Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilaksanakan di Indonesia merupakan langkah mitigasi bencana yang terukur, berbasis sains, dan ditujukan untuk melindungi masyarakat di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengatakan OMC dijalankan sebagai respons atas menurunnya daya dukung lingkungan serta meningkatnya risiko cuaca ekstrem, khususnya hujan lebat yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.
Pernyataan ini sekaligus menanggapi beredarnya narasi di medtaia sosial yang menyebut OMC berisiko menjadi “bom waktu”, karena dianggap dapat membuat cuaca tidak stabil, memicu fenomena kolam udara dingin (cold pool), memindahkan hujan ke wilayah lain, hingga menimbulkan rasa aman palsu di masyarakat.
Tri menjelaskan bahwa cold pool merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami dan selalu terbentuk setiap kali terjadi hujan, baik secara alami maupun melalui OMC. Fenomena tersebut terjadi akibat penguapan air hujan di bawah awan badai yang mendinginkan udara dan membentuk massa udara padat yang turun ke permukaan.
Menurutnya, mengaitkan cold pool sebagai dampak berbahaya dari OMC merupakan kekeliruan secara ilmiah. Hal itu karena OMC dengan teknik penyemaian awan tidak menumbuhkan awan baru, melainkan hanya memicu proses alami pada awan yang sudah terbentuk dan jenuh secara alami.
“Tujuan OMC murni untuk mitigasi bencana, yakni menambah atau mengurangi curah hujan sesuai kebutuhan pengendalian risiko, bukan memicu ketidakstabilan cuaca. Secara skala energi, teknologi manusia saat ini juga tidak mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar seperti yang dikhawatirkan,” ujar Tri, Rabu (28/1/2026).
Terkait anggapan bahwa OMC memindahkan hujan ke wilayah lain, Tri menjelaskan terdapat dua metode yang digunakan. Pertama, jumping process method dengan menyemai awan di laut agar hujan turun sebelum mencapai daratan. Kedua, competition method untuk meluruhkan intensitas awan yang tumbuh di daratan agar tidak berkembang menjadi awan hujan ekstrem.
Ia menambahkan bahwa kejadian banjir sangat dipengaruhi oleh kemampuan lingkungan dalam merespons curah hujan. Sebagai contoh, hilangnya sekitar 800 situ atau danau resapan di wilayah Jabodetabek sejak 1930-an menjadi salah satu faktor utama berkurangnya daya resap air.
BMKG menekankan bahwa penataan lingkungan tetap menjadi langkah utama dalam penanganan banjir, namun harus berjalan paralel dengan upaya pengendalian curah hujan melalui OMC.
Ke depan, penguatan kapasitas modifikasi cuaca serta perbaikan tata lingkungan dinilai perlu terus dilakukan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian nyata. (hai)










