Koranindopos.com. JAKARTA. Penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) melalui program government to government(G-to-G) ke Korea Selatan (Korsel) telah melampaui target. Sepanjang tahun ini, Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) telah mengirim 170 ribu PMI ke Korsel. Jumlah tersebut melebihi target 150 ribu PMI.
”Padahal di tahun 2021 penempatannya hanya di 72 ribu. Ini sudah terlewati,” kata Kepala BP2MI Benny Rhamdani di hadapan Deputi 4 Kepala Staf Presiden Bidang Informasi dan Komunikasi Politik Juri Ardiantoro yang ikut menghadiri pelepasan 228 PMI ke Korsel di Hotel El Royale Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (28/11/2022).
Benny mengungkapkan, penempatan tersebut sebelumnya sempat terhenti karena pandemi Covid-19. ”Tiap minggu dilakukan terus-menerus sejak Korea menyatakan membuka kembali masuknya tenaga kerja asing ke negara mereka. Sebelumnya 2 tahun tunda karena Covid. Penundaan ini bukan karna kebijakan pemerintah Indonesia,” ujar Benny.
Benny juga mengatakan, dia bermimpi Indonesia melepas pekerja migran bak melepas kontingen olimpiade. ”Bedanya adalah jika kontingen olimpiade yang dilepas oleh negara sebagai duta bangsa dia akan bertarung dalam event olahraga. Tapi anak-anak kita hari ini pekerja migran kita lepas dan dilepas oleh negara secara resmi sebagai duta bangsa untuk bertarung dalam kompetisi global dengan negara-negara lain merebut peluang kerja di luar negeri,” beber Benny.
Dia juga menegaskan, tidak ada lagi penempatan PMI secara diam-diam dan ditampung di wisma. ”Tidak boleh lagi anak-anak bangsa yang akan berangkat ke luar negeri datang ke bandara secara sendiri-sendiri bahkan berangkat secar diam-diam,” tuturnya.
Saat ini, BP2MI memulai era baru. Transformasi sedang berjalan berbagai regulasi yang berpihak kepada pekerja migran Indonesia. ”Pesan Pak Presiden kepada saya tolong lindungi PMI dari ujung rambut sampai ujung kaki. Beliau marah jika ada hal-hal yang tidak sesuai di lapangan. Hal-hal yang tidak benar yaitu bagian atau perilaku yang merendahkan martabat rakyat, misalnya saya sering dengar mereka itu sering terlantar di bandara toleran tidak ada petugas satupun di sana. Bahkan mereka menjadi mangsa pemerasan setiap tiba di tanah air,” ungkap Benny.
Untuk memuliakan PMI, kata Benny, berbagai terobosan dilakukan oleh BP2MI. Antara lain dengan membangun ruang santai atau lounge VVIP di bandara khusus bagi pekerja migran yang akan berangkat atau tiba di Indonesia. Kemudian juga disediakan layanan help desk sebagai tempat pelayanan bagi pekerja migran. ”Di bandara, kita juga menyediakan fast track atau jalur khusus bagi pekerja migran yang sebelumnya hanya dinikmati orang-orang penting,” ujar Benny. (wyu/mmr)










