Koranindopos.com, Jakarta – Peralihan rumah produksi dari sinetron ke film layar lebar sering kali tidak mudah. Namun langkah itu justru berhasil dilewati Ess Jay Studio lewat film perdana mereka, Tiba-Tiba Setan, yang kini telah menembus lebih dari 1 juta penonton di bioskop.
Capaian ini menjadi menarik karena datang dari rumah produksi yang sebelumnya lebih dikenal lewat deretan sinetron televisi. Dengan latar belakang tersebut, banyak yang melihat film ini sebagai uji coba: apakah formula yang berhasil di layar kaca bisa diterapkan di bioskop. Jawabannya mulai terlihat dari angka penonton yang terus bertambah sejak film ini tayang pada 16 April 2026.
Alih-alih mengambil jalur aman dengan horor murni, film ini justru memadukan komedi dan drama keluarga dalam satu cerita. Pilihan tersebut terbilang berisiko, tetapi justru menjadi pembeda di tengah banyaknya film horor dengan pola serupa. Penonton tidak hanya disuguhkan ketegangan, tetapi juga dinamika antar karakter yang lebih ringan.
Cerita film ini berpusat pada sekelompok kakak beradik yang awalnya merancang sebuah tipu daya. Rencana tersebut berubah arah ketika mereka justru berhadapan dengan kejadian supranatural di sebuah hotel tua. Dari titik itu, konflik berkembang dengan tempo cepat, memadukan adegan seram dan humor dalam porsi yang cukup seimbang.
Kekuatan lain film ini terletak pada para pemainnya. Nama-nama seperti Ratu Felisha, Poppy Sovia, Tanta Ginting, Oki Rengga, hingga Naura Hakim menghadirkan interaksi yang terasa natural. Kombinasi aktor dan komika memberi warna tersendiri, terutama dalam menjaga ritme antara adegan tegang dan ringan.
Produser Sridhar Jetty menilai hasil ini sebagai langkah awal yang penting.
“Sebagai film pertama kami, pencapaian ini tentu sangat membanggakan. Ini menjadi bukti bahwa kerja keras seluruh tim, mulai dari pemain hingga kru di balik layar, terbayar dengan dukungan luar biasa dari penonton,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa capaian ini bukan tujuan akhir. “Kami percaya industri film Indonesia terus berkembang, dan kami ingin menjadi bagian dari perjalanan tersebut dengan menghadirkan cerita-cerita yang fresh, berani, dan menghibur.”
Jika melihat tren beberapa tahun terakhir, genre horor memang masih mendominasi pasar film Indonesia.
Namun keberhasilan film ini menunjukkan bahwa pendekatan campuran, menggabungkan horor dengan komedi dan cerita keluarga—masih memiliki ruang yang besar. Penonton tampaknya mulai mencari variasi, bukan sekadar ketakutan.
Bagi Ess Jay Studio, keberhasilan ini memberi posisi baru. Mereka tidak lagi hanya dikenal sebagai produsen sinetron, tetapi mulai diperhitungkan di layar lebar. Apalagi sebelumnya mereka sudah memiliki pengalaman membangun cerita populer melalui sejumlah judul serial. (BRG/Kul)
.










