Angga Budi Kusuma, pria asal Mustika Jaya, Bekasi, Jawa Barat, kembali viral. Sebelumnya, kisahnya menapaki karir dari office boy (OB) menjadi direktur properti hanya dalam waktu delapan tahun telah menginspirasi banyak orang. Baru-baru ini, dia kembali menjadi sorotan setelah mendapat salam hormat dari Presiden Prabowo karena debutnya di dunia properti kian moncer, dan menghasilkan keuntungan mencapai ratusan miliar.
LAPORAN: SUSILO, Koranindopos.com
KISAH Angga memang fenomenal. Bahkan mungkin, sebagian orang menilainya kontroversial. Bayangkan, perbandingan antara jabatan mentereng yang dia tempati saat ini dengan delapan tahun silam, bak langit dan bumi. Ya. Bayangkan, dari OB naik kelas beberapa level menjadi direktur utama, sekaligus owner di perusahaan yang sama. Namanya resmi tercatat di akta notaris perusahaan sebagai pemilik Pesona Kahuripan.
Sebuah perusahaan pengembang hunian sederhana atau yang populer dengan sebutan rumah subsidi. Itu adalah perusahaan yang telah hampir satu dekade bercokol menguasai pengembangan hunian untuk kelas masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Cilengsi, Bogor, Jawa Barat.
Nama Angga belakangan ini kembali disorot publik. Itu setelah Presiden Prabowo Subianto secara langsung memberikan salam hormat kepada Angga dari atas podium. Kala itu, tepatnya pada Senin (29/9/2025), Prabowo menghadiri akad massal 26.000 unit rumah subsidi di Pesona Kahuripan. ”Saya jenderal. Saya hormat sama kau. Saya bangga dan terharu hari ini. Pengusaha yang hebat asalnya dari office boy. Dalam delapan tahun, beliau bisa menghasilkan Rp 120 miliar. Gak pake nyolong. Gak pake korupsi,” kata Prabowo, lantang.
Momen yang tak terlupakan bagi Angga. Dia mendapat penghormatan langsung dari orang nomor satu di negeri ini. Momen itu membuat sosoknya kian populer. Ya. Bukan perkara mudah bagi Angga untuk menjadi dirinya yang sekarang. Sebab, dia harus bertanggung jawab penuh terhadap seluruh operasional perusahaan. Kehidupannya kontras berbeda dengan Angga delapan tahun silam.
Dulu dia bertugas membersihkan kantor, mulai dari toilet, dapur, sampai melayani semua kebutuhan kerja karyawan. Kini, sepanjang hari dia sibuk menerima telepon dan pesan WhatsApp (WA). ”Nih, lihat ada 50 chat WA kira-kira yang masuk ke handphone saya sehari. Saya harus melayani dengan baik,” ujar Angga seraya memperlihatkan layar gawai.
Ya. Dia adalah tokoh sentral di Pesona Kahuripan. Banyak hal yang harus dia respons. Baik yang berkaitan dengan manajerial internal kantor, sampai konsumen yang bertanya langsungkepadanya. Itulah dia. Gaya komunikasi yang terbuka, membuat Angga sekarang dan dulu samasaja. Tidak ada kesan ekslusif. Tak ada gap. Dia tetap low profile. ”Semua milik Tuhan. Semua kepunyaan Allah. Saya hanya diperankan oleh Tuhan,” ujarnya saat ditemui di Kantor Marketing Pesona Kahuripan, Cilengsi, Bogor, Jawa Barat pada Senin (20/10/2025) lalu.
Mengulik latar belakang Angga memang menarik. Angga pada 2017 hanya seorang pengangguran. Segala macam cara dan upaya telah dia lakukan untuk mencari pekerjaan. Dari Bekasi dia merantau ke berbagai daerah. Namun hasilnya nihil. ”Saya ke sini (Cilengsi, Red)terdampar. Ibu saya yang memperkenalkan dengan Pak Wawan. Dia pemilik Pesona Kahuripan,” beber ayah tiga anak itu.
Kala itu, kenang Angga, dia langsung menerima pekerjaan tersebut. Tugasnya sehari-hari sebagai pesuruh atau OB. Namun ternyata, di balik kegigihan dan ketabahan menjalani pekerjaan itu, dia mendapat hikmah. “Semua itu adalah proses. Di benak saya saat itu, saya hanya ingin menyenangkan orang lain dengan apa yang saya bisa. Saya saat itu hanya orang yang butuh kegiatan. Awalnya bantu-bantu, lalu disuruh-suruh. Ternyata, orang itu secara tidak kita sadari, sedang mentransfer ilmu kepada kita. Disuruh menyalakan mesin fotokopi, misalnya. Awalnya tidak bisa, menjadi bisa. Itu kan transfer ilmu namanya. Lalu, dari situ saya selalu bertanya, ada yang bisa saya bantu gak,” beber suami dari Devia Adelita itu.
Sejak saat itu, Angga mulai mendapat tambahan pekerjaan. Selain bersih-bersih kantor, dia juga mengurus berkas, misalnya dokumen akad kredit dan lain sebagainya. Dari situ, dia mulai belajar banyak tentang dunia properti. Pada suatu ketika, tepatnya pada 2021, dia ikut bersama para pemilik perusahaan ke sebuah bank untuk keperluan pengajuan pinjaman pembiayaan proyek hunian subsidi. Saat itulah, momen tak masuk akal itu terjadi. Wawan menyerahkan sepenuhnya perusahaan tersebut kepadanya disaksikan pemegang saham lainnya, notaris, dan pihak bank. ”Kalau orang lain bingung, saya lebih bingung. Tapi itulah rencana Tuhan. Hal tidak mungkin menjadi mungkin atas izin Tuhan,” ungkapnya.
Dia ingat betul momen langka itu terjadi. Dia menirukan kalimat bosnya saat itu. “Pak Wawan bilang ke notaris, Bu besok mah Angga ya yang tanda tangan,” kenang Angga, dengan nada gamblang. Kejadian tersebut membuat Angga tidak bisa tidur selama dua hari. Kemudian dia memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada bosnya. Dua pertanyaan yang dia ajukan. Pertama kenapa keluar dari perusahaan dan kedua, kenapa menunjuk Angga yang menggantikan. ”Untuk menyempurnakan ibadah. Agar saya tidak mengakui, perusahaan punya saya. Lalu kenapa Angga? Yang nunjuk Angga itu bukan saya. Hakikatnya dari Allah, saya cuma perantara,” ucap Angga menirukan jawaban Wawan kepadanya lima tahun silam.
Angga menilai, keputusan bosnya adalah bentuk komitmen Wawan untuk mempraktikkan ibadah tertinggi, bahwa semua adalah milik Allah. ”Langit bumi berikut isinya itu kepunyaan Tuhan, kita mah gak punya apa-apa. Nih saya buktiin, saya keluar dari perusahaan. Di akta notaris saham Pak Wawan diserahkan kepada saya semua,” ujar Angga, lugas menirukan ucapan Wawan saat itu.
Apakah pemegang saham lain dan keluarga Wawan setuju dengan keputusan tersebut? Pertanyaan ini yang pasti muncul ketika orang mendengar cerita Angga. “Setuju. Pak Wawan pemegang saham mayoritas. Istri, anak, dan keluarga Pak Wawan pun demikian,” ujar Angga. (BERSAMBUNG/*)
BIODATA
AYAH: Jaja Sukmajaya, 56 tahun.
IBU: Suryani, 53 tahun.
ISTRI: Devia Adelita, 27 tahun.
ANAK:
- Athena Zoya, 10 tahun.
- Saka Dirgantara, 4 tahun.
- Bumi Devanka, 1 tahun.
(Sumber: Angga Budi Kusuma)










