Koranindopos.com – JAKARTA – Kenaikan harga gas elpiji (LPG) nonsubsidi ukuran 12 kilogram mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, khususnya warga ibu kota. Bukan hanya soal bertambahnya beban pengeluaran rumah tangga, tetapi juga potensi efek berantai yang bisa memicu kenaikan harga kebutuhan lainnya.
Diketahui, harga LPG 12 kg mengalami kenaikan dari sekitar Rp 192.000 menjadi Rp 228.000 per tabung. Kenaikan ini langsung dirasakan masyarakat sebagai tekanan tambahan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Bagi sebagian warga, kenaikan harga gas bukan sekadar persoalan satu komoditas. Michael (24), warga Kalideres, Jakarta Barat, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kenaikan ini bisa memicu lonjakan harga lain.
“Biasanya kalau gas naik, yang lain ikut. Takutnya bukan cuma Rp 36.000 ini, tapi nanti harga makanan, ongkos, semua ikut naik,” ujarnya.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. LPG merupakan kebutuhan utama, baik untuk rumah tangga maupun pelaku usaha kecil seperti warung makan dan pedagang kaki lima. Ketika biaya operasional mereka naik, ada kemungkinan harga jual produk juga ikut disesuaikan.
Kenaikan LPG berpotensi paling cepat dirasakan oleh sektor usaha kecil. Pedagang makanan, misalnya, sangat bergantung pada gas untuk memasak. Jika harga gas naik signifikan, mereka dihadapkan pada dua pilihan sulit: menaikkan harga jual atau menanggung biaya tambahan dengan margin keuntungan yang semakin tipis.
Dalam banyak kasus, penyesuaian harga menjadi langkah yang tak terhindarkan. Hal ini yang kemudian dikhawatirkan masyarakat sebagai awal dari kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.
Selain itu, kenaikan harga LPG nonsubsidi juga mendorong sebagian masyarakat untuk beralih ke LPG subsidi ukuran 3 kg. Fenomena ini kerap disebut sebagai “turun kelas”, di mana pengguna sebelumnya beralih ke produk yang lebih murah demi menekan pengeluaran.
Namun, pergeseran ini berpotensi menimbulkan masalah baru, seperti meningkatnya beban subsidi pemerintah serta risiko kelangkaan LPG 3 kg bagi masyarakat yang memang berhak.
Kenaikan harga LPG mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam menjaga stabilitas harga energi dan kebutuhan pokok. Ketika satu komponen biaya meningkat, dampaknya bisa menjalar ke berbagai sektor.
Pemerintah diharapkan dapat mengantisipasi dampak lanjutan ini, baik melalui pengawasan harga maupun kebijakan yang menjaga daya beli masyarakat. Tanpa langkah mitigasi yang tepat, kenaikan LPG dikhawatirkan menjadi pemicu inflasi yang lebih luas.(dhil)










