koranindopos.com – Jakarta. Fraksi Partai Republik di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (AS) secara resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) kontroversial bertajuk Big Beautiful pada Kamis (3/7/2025). RUU yang diusulkan oleh Presiden Donald Trump ini berhasil lolos dengan hasil tipis 218-214, menandakan kemenangan penting bagi agenda legislatif Trump menjelang perayaan Hari Kemerdekaan AS, 4 Juli.
RUU ini disetujui hampir sepenuhnya berdasarkan garis partai. Dua anggota Partai Republik memutuskan menolak RUU tersebut bersama seluruh anggota Partai Demokrat, yang mengkritik substansi dan tujuan politik di balik regulasi tersebut. Meski demikian, dominasi Republik di DPR memungkinkan pengesahan tetap berlangsung.
RUU Big Beautiful sebelumnya telah disetujui oleh Senat AS pada Selasa (1/7) setelah melalui serangkaian negosiasi dan amandemen. Dalam sidang Senat yang berlangsung ketat, Wakil Presiden JD Vance menggunakan hak suara penentunya untuk mengamankan kemenangan mayoritas tipis, mencerminkan betapa terpolarisasinya pembahasan RUU ini di Kongres.
Setelah lolos di DPR, RUU ini dijadwalkan akan diserahkan kepada Presiden Trump untuk ditandatangani tepat pada 4 Juli, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan AS—sebuah simbolisasi politik yang kuat bagi administrasi Trump dan Partai Republik. Sejumlah pengamat menilai, momentum ini dirancang untuk memperkuat citra kepemimpinan Trump sebagai pemersatu nasional dan pelindung “nilai-nilai tradisional Amerika.”
Meski belum secara resmi diumumkan kepada publik secara rinci, RUU Big Beautiful disebut-sebut mencakup sejumlah kebijakan yang berfokus pada penguatan keamanan perbatasan, penyederhanaan regulasi bisnis domestik, serta peningkatan belanja infrastruktur dengan pendekatan “nasionalis-ekonomi” ala Trump.
Namun, Partai Demokrat dan kelompok masyarakat sipil mengecam beberapa ketentuan dalam RUU tersebut, termasuk pasal-pasal yang dinilai membatasi perlindungan lingkungan, imigrasi legal, dan jaminan sosial. Mereka menyebut RUU ini sebagai “simbol kampanye politik” menjelang Pilpres 2026, dan menuduh Trump memanipulasi institusi legislatif demi ambisi pribadi.
Meskipun mayoritas Partai Republik mendukung penuh RUU tersebut, perbedaan pandangan tetap muncul di dalam tubuh partai. Dua anggota fraksi yang memilih menolak RUU menyatakan keprihatinannya terhadap “proses terburu-buru” dan dampak jangka panjang dari kebijakan yang dinilai belum dikaji secara menyeluruh.
Sementara itu, kubu pendukung menyatakan bahwa Big Beautiful akan mengembalikan kekuatan ekonomi dan moral Amerika, serta menjadi warisan legislatif penting bagi kepemimpinan Trump.(dhil)










