koranindopos.com – JAKARTA. PAM Jaya mengoperasikan pelayanan air sepenuhnya di Jakarta mulai berlangsung hari ini (2/2/2023). Sebelum operasional penuh tersebut, PAM Jaya melaksanakan kegiatan apel kesiapan kemarin (1/2/2023).
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin menuturkan, selama satu tahun belakang berbagai persiapan dilakukan sebagai bagian proses transisi dan transformasi. Mulai dari Kick Off Event Transisi dan Transformasi PAM Jaya, Kolaborasi dengan Kejati DKI Jakarta dalam Transisi Kontrak Konsesi dan Percepatan Pembangunan SPAM, penandatanganan perjanjian kerja sama antara PAM Jaya dan Moya Indonesia, perekrutan 1.097 karyawan Palyja dan Aetra, hingga serah terima aset dengan Palyja dan Aetra. ”25 tahun lalu jangan kejadian lagi. Kita nggak mampu, apa yang kemudian dilakukan? swastanisasi akan bergerak lagi. Apa yang terjadi? kedaulatan air tidak seimbang,” ujarnya kepada awak media.
Oleh karena itu, dia mengajak semua jajarannya untuk berhasil dalam mengoperasikan layanan air sepenuhnya di Jakarta.Menurutnya, PAM Jaya saat ini telah memastikan lima elemen penting telah terpenuhi untuk layanan penuh tersebut. Yakni, tersedianya struktur organisasi full operation yang mengakomodir karyawan mitra termasuk posisi dan jabatan, tersedianya SDM secara kuantitatif (jumlah) dan kualitatif (kompetensi) yang siap untuk menjalankan pengoperasian penuh, tersedianya proses bisnis pengelolaan SPAM yang akan dijalankan, tersedianya sistem dan aplikasi yang siap digunakan untuk pengoperasian penuh, serta tersedianya alat dan material penunjang operasional dan pelayanan. ”Sekarang, tujuan kami semua di PAM Jaya adalah satu. Yakni mencapai 100 persen cakupan pelayanan pada 2030,” katanya.
Selain memastikan 100 persen cakupan layanan pada 2030, PAM Jaya juga menargetkan tingkat kebocoran air atau Non Revenue Water (NRW) pada 2030 turun menjadi 30 persen. ”Kami punya target 2030 NRW menjadi 30 persen dari yang sekarang 46 persen. Untuk mencapai itu, kami susun programnya agar turun secara gradual. Karena gini, penurunan itu perlu investasi besar,” terang Direktur Teknik PAM Jaya Untung Suryadi.
Menurut Untung, penurunan NRW tersebut perlu memerlukan investasi yang cukup besar. Dia lantas menjelaskan, pipa sambungan PAM Jaya saat ini memiliki panjang 12 kilometer yang melayani 65 persen wilayah di Jakarta. Dari jumlah itu, mereka sedang mencari lokasi pipa mana saja yang sudah tua. Dari sana mereka akan mengatur pipa mana yang diprioritaskan untuk diperbaiki.
”Kami sedang membuat road map. Insya allah enam bulan ini kami bisa menentukan area mana saja yang akan diprioritaskan untuk perbaikan, daerah mana yang paling gede. Mungkin, (Jakarta, Red) barat yang cukup gede (kebocorannya). Setelah kami mapping nanti, kami lihat demand-nya gede atau gak. Setelahnya, tentunya itu kami tentukan jadi prioritas yang diperbaiki,” jelasnya.
Dia tidak menampik, usia pipa yang ada saat ini banyak yang sudah tua. Bahkan, dia menyebutkan ada pipa yang usianya mencapai 100 tahun.”Usia pipa yang paling lama itu seumum PAM Jaya. Idealnya sih beda-beda tergantung medannya. Jakarta kan jalannya sudah berlipat-lipat. Itu juga satu beban karena kami sulit melihat kebocorannya. Makanya, itu tadi perlu investasi besar. (wyu/mmr)










