Koranindopos.com – Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan Rabu (5/8/2026) di zona hijau dengan kenaikan 0,50% ke level 6.351,14. Penguatan ini terjadi di tengah masih berlanjutnya aksi jual bersih (net sell) investor asing, sementara mayoritas sektor saham mencatatkan kinerja positif.
Kenaikan IHSG terutama ditopang oleh menguatnya saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Namun, laju penguatan indeks tertahan oleh pelemahan saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Meskipun indeks berhasil menguat, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp187,59 miliar di pasar reguler dan Rp182,77 miliar di seluruh pasar.
Pergerakan sektoral menunjukkan sembilan dari sebelas sektor berhasil ditutup di zona hijau. Sektor kesehatan menjadi pemimpin penguatan setelah naik 2,35%, didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap saham-saham farmasi dan layanan kesehatan.
Sebaliknya, sektor infrastruktur menjadi sektor dengan kinerja terlemah setelah terkoreksi 0,99%, sementara sektor lainnya masih mampu mencatatkan penguatan yang menopang pergerakan IHSG.
Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,49%, sedangkan S&P 500 turun 0,17% dan Nasdaq Composite melemah 0,83%. Kondisi tersebut mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global serta arah kebijakan suku bunga.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memperbarui daftar High Shareholding Concentration (HSC) dengan menambahkan tiga emiten, yakni ALKA, AGAR, dan BKDP. Dengan penambahan tersebut, total saham yang masuk dalam daftar HSC kini mencapai 53 emiten. Langkah ini bertujuan meningkatkan transparansi dan memberikan informasi tambahan kepada investor mengenai konsentrasi kepemilikan saham.
Di sisi lain, indikator pasar Indonesia di luar negeri masih menunjukkan tekanan. ETF Indonesia (EIDO) tercatat melemah 0,16%, sedangkan MSCI Indonesia turun lebih dalam sebesar 0,97%.
Dari sisi fundamental emiten, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mencatatkan kinerja positif sepanjang semester pertama 2026. Perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp67,96 triliun atau tumbuh 6,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan penjualan makanan yang mencapai Rp48,58 triliun serta penjualan produk nonmakanan sebesar Rp19,37 triliun. Selain itu, ekspansi jaringan gerai, meningkatnya transaksi melalui aplikasi Alfagift, serta perubahan pola belanja masyarakat dari supermarket ke minimarket turut menjadi pendorong pertumbuhan.
Walaupun beban pokok pendapatan meningkat menjadi Rp52,80 triliun, AMRT tetap membukukan laba bruto sebesar Rp15,15 triliun dengan marjin laba bruto 22,30%.
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga naik 7,50% menjadi Rp2,03 triliun berkat efisiensi operasional dan bertambahnya skala bisnis perusahaan.
PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) melanjutkan strategi ekspansi dengan membangun pabrik frozen dough di Tangerang Selatan. Fasilitas produksi tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada Agustus hingga September 2026 dengan kapasitas mencapai ratusan ribu adonan beku per hari.
Pembangunan pabrik yang menelan investasi sekitar Rp15 miliar tersebut dibiayai dari dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO). Kehadiran fasilitas baru ini diharapkan mempercepat pengembangan bisnis Fore Donut.
Perseroan menargetkan jumlah gerai Fore Donut meningkat dari 10 gerai pada semester pertama menjadi sekitar 30 gerai hingga akhir tahun 2026. Meski kontribusinya terhadap total pendapatan tahun ini masih diperkirakan sekitar 5%, porsinya diyakini akan meningkat setelah pabrik beroperasi secara penuh.
Kabar positif juga datang dari PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) yang memutuskan membagikan dividen tunai interim sebesar Rp20 per saham dengan total nilai sekitar Rp76 miliar.
Pembagian dividen tersebut didukung oleh lonjakan laba bersih semester pertama 2026 sebesar 40,10% menjadi Rp183,89 miliar. Perseroan juga memiliki saldo laba ditahan sebesar Rp738,10 miliar dengan total ekuitas mencapai Rp894,63 miliar.
Nilai dividen interim tersebut setara sekitar 41,33% dari laba bersih semester pertama 2026. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan berlangsung pada 13 Agustus 2026, sedangkan pembayaran dividen akan dilakukan pada 4 September 2026.
Dengan harga penutupan saham MARK di level Rp1.095, dividend yield yang ditawarkan mencapai sekitar 1,83%.
Sejumlah analis merekomendasikan beberapa saham yang dinilai masih memiliki potensi melanjutkan penguatan berdasarkan analisis teknikal.
Untuk saham ANTM, investor dapat mempertimbangkan area beli di kisaran Rp3.050–Rp3.070 dengan target harga Rp3.110–Rp3.160 dan batas stop loss di Rp2.900.
Saham BRMS direkomendasikan beli pada kisaran Rp595–Rp610, dengan target Rp620–Rp630 dan stop loss Rp565.
Selanjutnya, ENRG dinilai menarik di area Rp1.320–Rp1.330 dengan target Rp1.375–Rp1.400 serta stop loss di Rp1.240.
Untuk sektor kesehatan, KLBF direkomendasikan beli pada kisaran Rp790–Rp795, dengan target harga Rp810–Rp820 dan stop loss Rp750.
Sementara itu, ARCI direkomendasikan beli pada level Rp1.140–Rp1.150, dengan target Rp1.170–Rp1.195 serta stop loss di Rp1.075.
Meski demikian, seluruh rekomendasi tersebut bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Investor tetap disarankan melakukan analisis secara menyeluruh serta menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.(Dhil)










