Koranindopos.com – JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap hasil investigasi sementara terkait insiden keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Dari pemeriksaan awal, kejadian tersebut diduga kuat berkaitan dengan kelalaian dalam proses penyimpanan bahan baku makanan, khususnya ikan.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, sebagian besar bahan baku ikan sebenarnya telah disimpan di dalam freezer. Namun, sekitar 200 hingga 300 ekor ikan tidak dimasukkan ke lemari pembeku dan justru dibiarkan berada pada suhu ruangan selama belasan jam.
“Kami coba cek investigasi sementara. Jadi, itu kelalaian ada pada pengolahan. Bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer, tapi ada sekitar 200 sampai 300 ekor yang tidak masuk freezer,” ujar Sudaryono saat menjenguk korban di Rumah Sakit Haji Medan, Minggu (16/8/2026).
Menurut dia, ikan yang tidak disimpan dalam freezer tersebut kemudian berada di suhu ruang selama sekitar 12 jam hingga lebih dari 12 jam.
Sudaryono menegaskan bahwa penyimpanan bahan pangan mentah, terutama ikan, harus mengikuti prosedur keamanan pangan yang ketat. Ikan merupakan bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan apabila tidak disimpan pada suhu yang sesuai.
Karena itu, penerapan rantai dingin atau cold chain menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kualitas dan keamanan bahan makanan sebelum diolah.
BGN menilai pembiaran ikan selama berjam-jam pada suhu ruangan merupakan bentuk kelalaian serius. Apalagi bahan tersebut nantinya digunakan untuk makanan yang dikonsumsi oleh para penerima manfaat program MBG.
“Tidak boleh ada kelalaian, tidak boleh! Zero tolerance, enggak boleh lalai,” tegas Sudaryono.
Ia bahkan meminta kepala dapur maupun pihak yang terlibat dalam pengolahan makanan untuk tidak memaksakan diri apabila merasa tidak mampu menjalankan prosedur keamanan pangan.
“Saya minta kepala dapur atau siapa pun yang merasa enggak sanggup kerja, keluar saja daripada kemudian membahayakan nasib nyawa seseorang,” lanjutnya.
Pasca-insiden di Kabupaten Karo, BGN mengambil langkah untuk memperketat penerapan standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan di seluruh fasilitas dapur MBG.
Pengawasan diminta dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penerimaan bahan baku, penyimpanan, proses pengolahan, hingga makanan siap didistribusikan kepada penerima manfaat.
BGN juga menginstruksikan sekitar 27.000 kepala dapur di berbagai wilayah Indonesia agar meningkatkan kewaspadaan dan memastikan seluruh tahapan pengolahan makanan berjalan sesuai standar.
Langkah tersebut menjadi penting mengingat program MBG melibatkan distribusi makanan dalam jumlah besar kepada masyarakat, sehingga kesalahan pada satu tahapan pengolahan berpotensi berdampak luas.
Sementara itu, Sudaryono turut menyampaikan perkembangan kondisi siswa yang menjadi korban dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Haji Medan.
Salah satu pasien yang sempat mendapatkan perawatan intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dilaporkan mulai menunjukkan perkembangan positif setelah menjalani perawatan selama tiga hari.
“Kondisinya di sini sudah dua hari, ini hari yang ketiga. Menurut laporan sudah membaik dibandingkan pertama kali masuk. Tapi memang masih di ICU,” kata Sudaryono.
Ia berharap kondisi pasien terus membaik sehingga dalam waktu dekat dapat dipindahkan dari ruang intensif ke ruang perawatan biasa.
“Saya berharap sesegera mungkin bisa betul-betul membaik dalam satu sampai dua hari ini,” ujarnya.
Insiden di Karo tersebut kini menjadi perhatian BGN untuk memastikan standar keamanan pangan program MBG diterapkan secara konsisten. Evaluasi terhadap proses penyimpanan dan pengolahan bahan makanan diharapkan dapat mencegah kejadian serupa kembali terjadi di fasilitas MBG lainnya.(Dhil/dtk)










