Selasa, 6 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Kesehatan

Kematian Pekerja Lab di Rusia Disorot, Eks WHO Ungkap 5 Fakta soal Penyakit Pes

Editor : Affandy oleh Editor : Affandy
6 Oktober 2026
in Kesehatan
A A
0
Kematian Pekerja Lab di Rusia Disorot, Eks WHO Ungkap 5 Fakta soal Penyakit Pes

Foto: dok. ilustrasi

Share on FacebookShare on Twitter

Koranindopos.com – JAKARTA – Kematian seorang pekerja perempuan di sebuah lembaga penelitian antipes di Irkutsk, Rusia, menjadi perhatian setelah muncul dugaan kasus tersebut berkaitan dengan penyakit pes. Sekitar 200 orang yang disebut memiliki kontak dengan kasus tersebut dilaporkan tengah menjalani pengawasan medis.

Meski demikian, penyebab pasti kematian pekerja tersebut hingga kini masih membutuhkan konfirmasi resmi. Pekerja itu dilaporkan mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.

Otoritas Rusia juga menyatakan kondisi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk masih stabil. Karena itu, informasi mengenai dugaan penyakit pes tersebut masih perlu ditunggu hingga adanya hasil pemeriksaan dan keterangan resmi dari pihak berwenang.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, turut menyoroti perkembangan kasus tersebut. Menurutnya, informasi yang tersedia saat ini masih membutuhkan data lebih lengkap dan konfirmasi resmi.

Artikel Terkait

Mengenal Kelenjar Pituitari: Waspadai Sakit Kepala Hingga Gangguan Penglihatan Sejak Dini

Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 4.018 Orang, Kasus Tembus 8.300

Kasus Campak di AS Tembus 3.887 pada 2026, Lampaui Total Tahun Lalu

Meski demikian, Prof Tjandra menjelaskan terdapat sejumlah hal penting yang perlu diketahui masyarakat mengenai penyakit pes.

Penyakit pes dikenal luas sebagai penyakit yang menyebabkan Black Death atau Wabah Hitam yang berlangsung pada 1346-1353. Wabah tersebut menjadi salah satu peristiwa epidemi paling mematikan dalam sejarah dan menyebabkan kematian dalam jumlah sangat besar di Eropa, Asia, dan Afrika.

Prof Tjandra menyebut Black Death sebagai salah satu pengalaman buruk dalam sejarah pandemi dunia.

Di Indonesia sendiri, wabah pes juga pernah terjadi pada awal abad ke-20, terutama di Pulau Jawa. Informasi mengenai sejarah penyakit tersebut juga telah dicatat dalam berbagai penelitian, termasuk oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Menurut Prof Tjandra, penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Informasi tersebut juga tercantum dalam laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pes merupakan penyakit zoonosis yang dapat berpindah dari hewan ke manusia. Dalam kondisi tertentu, penyakit ini juga dapat menular antarmanusia.

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan bagian tubuh yang terinfeksi maupun melalui partikel yang terhirup, terutama pada jenis pes yang menyerang paru-paru.

Hal inilah yang membuat pemantauan terhadap orang-orang yang memiliki kontak dengan kasus suspek menjadi penting.

Penyakit pes dapat muncul dalam beberapa bentuk dengan gejala dan tingkat keparahan yang berbeda.

Salah satunya adalah bubonic plague, yang umumnya ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening. Ada pula bentuk pes yang menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan septikemia.

Sementara itu, pneumonic plague merupakan bentuk penyakit pes yang menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan pneumonia.

Kondisi pekerja perempuan di Rusia yang dilaporkan mengalami pneumonia menjadi salah satu hal yang kemudian mendapat perhatian. Namun, Prof Tjandra menegaskan bahwa belum ada kepastian bahwa pneumonia tersebut disebabkan oleh Yersinia pestis.

Prof Tjandra juga mengingatkan bahwa penyakit pes dapat berkembang menjadi kondisi serius dan berujung pada kematian apabila tidak ditangani dengan tepat.

Menurutnya, tingkat kematian pada bubonic plague dapat mencapai sekitar 30-60 persen apabila tidak mendapatkan penanganan yang memadai. Sementara itu, pneumonic plague merupakan bentuk yang lebih agresif dan dapat berakibat fatal jika pengobatan terlambat diberikan.

Karena itu, deteksi dini dan penanganan medis menjadi faktor penting dalam menghadapi penyakit tersebut.

Tidak ditemukannya kasus pes pada manusia di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir bukan berarti penyakit tersebut sepenuhnya hilang dari Tanah Air.

Prof Tjandra menjelaskan adanya istilah silent period, yakni kondisi ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu tertentu, tetapi sumber atau faktor pendukungnya masih dapat bertahan dan berpotensi menyebabkan kemunculan kembali.

Peneliti BRIN juga sebelumnya menemukan bakteri penyebab pes beserta vektor dan reservoirnya, seperti pinjal dan tikus, di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

Dengan kondisi tersebut, perkembangan situasi di Rusia tetap perlu dipantau. Masyarakat juga diimbau tidak panik, tetapi tetap memperhatikan informasi resmi dari otoritas kesehatan.

“Kita perlu pantau dengan ketat tentang apa yang terjadi di Rusia ini, dan kita juga harus terus berhati-hati tentang kemungkinan pes di negara kita,” ujar Prof Tjandra.

Hingga saat ini, dugaan bahwa kematian pekerja laboratorium di Irkutsk berkaitan dengan penyakit pes masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Pemeriksaan laboratorium dan informasi resmi dari otoritas kesehatan menjadi penentu untuk memastikan penyebab kasus tersebut.(dhil/dtk)

Topik: eks whokematianpenyakit pes

TerkaitBerita

Mengenal Kelenjar Pituitari: Waspadai Sakit Kepala Hingga Gangguan Penglihatan Sejak Dini
Kesehatan

Mengenal Kelenjar Pituitari: Waspadai Sakit Kepala Hingga Gangguan Penglihatan Sejak Dini

oleh Editor : Akula
5 Oktober 2026
Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 4.018 Orang, Kasus Tembus 8.300
Kesehatan

Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 4.018 Orang, Kasus Tembus 8.300

oleh Editor : Affandy
4 Oktober 2026
Kasus Campak di AS Tembus 3.887 pada 2026, Lampaui Total Tahun Lalu
Kesehatan

Kasus Campak di AS Tembus 3.887 pada 2026, Lampaui Total Tahun Lalu

oleh Editor : Affandy
3 Oktober 2026
Mengenal Smartphone Brain, Kebiasaan Main HP yang Bisa Ganggu Fokus hingga Tidur
Kesehatan

Mengenal Smartphone Brain, Kebiasaan Main HP yang Bisa Ganggu Fokus hingga Tidur

oleh Editor : Affandy
2 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

Satu Dekade Astra Property, Perkuat Bisnis Komersial dan Industrial

Satu Dekade Astra Property, Perkuat Bisnis Komersial dan Industrial

6 Oktober 2026
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,20% ke Level 6.130

IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,20% ke Level 6.130

6 Oktober 2026
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp10.000, Jadi Rp2,57 Juta per Gram

Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp10.000, Jadi Rp2,57 Juta per Gram

6 Oktober 2026
ATUR STRATEGI: Aksi John Herdman di pinggir lapangan mengatur strategis skuad Garuda pada laga FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand. (Foto: (c) Budy Santoso)

Strategi Jitu John Herdman Kunci Kemenangan Skuad Garuda di Puncak FIFA ASEAN Cup 2026

6 Oktober 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    4898 shares
    Share 1959 Tweet 1225
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1005 shares
    Share 402 Tweet 251
  • Laga Awal Musim Membuka Peluang AC Milan Berkembang

    342 shares
    Share 137 Tweet 86
  • Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

    373 shares
    Share 149 Tweet 93
  • Posting Kalimat Galau di Instagram, Ada Apa Dengan Yogie Nandes?

    313 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya