Koranindopos.com – JAKARTA – Kematian seorang pekerja perempuan di sebuah lembaga penelitian antipes di Irkutsk, Rusia, menjadi perhatian setelah muncul dugaan kasus tersebut berkaitan dengan penyakit pes. Sekitar 200 orang yang disebut memiliki kontak dengan kasus tersebut dilaporkan tengah menjalani pengawasan medis.
Meski demikian, penyebab pasti kematian pekerja tersebut hingga kini masih membutuhkan konfirmasi resmi. Pekerja itu dilaporkan mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.
Otoritas Rusia juga menyatakan kondisi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk masih stabil. Karena itu, informasi mengenai dugaan penyakit pes tersebut masih perlu ditunggu hingga adanya hasil pemeriksaan dan keterangan resmi dari pihak berwenang.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, turut menyoroti perkembangan kasus tersebut. Menurutnya, informasi yang tersedia saat ini masih membutuhkan data lebih lengkap dan konfirmasi resmi.
Meski demikian, Prof Tjandra menjelaskan terdapat sejumlah hal penting yang perlu diketahui masyarakat mengenai penyakit pes.
Penyakit pes dikenal luas sebagai penyakit yang menyebabkan Black Death atau Wabah Hitam yang berlangsung pada 1346-1353. Wabah tersebut menjadi salah satu peristiwa epidemi paling mematikan dalam sejarah dan menyebabkan kematian dalam jumlah sangat besar di Eropa, Asia, dan Afrika.
Prof Tjandra menyebut Black Death sebagai salah satu pengalaman buruk dalam sejarah pandemi dunia.
Di Indonesia sendiri, wabah pes juga pernah terjadi pada awal abad ke-20, terutama di Pulau Jawa. Informasi mengenai sejarah penyakit tersebut juga telah dicatat dalam berbagai penelitian, termasuk oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Prof Tjandra, penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Informasi tersebut juga tercantum dalam laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pes merupakan penyakit zoonosis yang dapat berpindah dari hewan ke manusia. Dalam kondisi tertentu, penyakit ini juga dapat menular antarmanusia.
Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan bagian tubuh yang terinfeksi maupun melalui partikel yang terhirup, terutama pada jenis pes yang menyerang paru-paru.
Hal inilah yang membuat pemantauan terhadap orang-orang yang memiliki kontak dengan kasus suspek menjadi penting.
Penyakit pes dapat muncul dalam beberapa bentuk dengan gejala dan tingkat keparahan yang berbeda.
Salah satunya adalah bubonic plague, yang umumnya ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening. Ada pula bentuk pes yang menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan septikemia.
Sementara itu, pneumonic plague merupakan bentuk penyakit pes yang menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan pneumonia.
Kondisi pekerja perempuan di Rusia yang dilaporkan mengalami pneumonia menjadi salah satu hal yang kemudian mendapat perhatian. Namun, Prof Tjandra menegaskan bahwa belum ada kepastian bahwa pneumonia tersebut disebabkan oleh Yersinia pestis.
Prof Tjandra juga mengingatkan bahwa penyakit pes dapat berkembang menjadi kondisi serius dan berujung pada kematian apabila tidak ditangani dengan tepat.
Menurutnya, tingkat kematian pada bubonic plague dapat mencapai sekitar 30-60 persen apabila tidak mendapatkan penanganan yang memadai. Sementara itu, pneumonic plague merupakan bentuk yang lebih agresif dan dapat berakibat fatal jika pengobatan terlambat diberikan.
Karena itu, deteksi dini dan penanganan medis menjadi faktor penting dalam menghadapi penyakit tersebut.
Tidak ditemukannya kasus pes pada manusia di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir bukan berarti penyakit tersebut sepenuhnya hilang dari Tanah Air.
Prof Tjandra menjelaskan adanya istilah silent period, yakni kondisi ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu tertentu, tetapi sumber atau faktor pendukungnya masih dapat bertahan dan berpotensi menyebabkan kemunculan kembali.
Peneliti BRIN juga sebelumnya menemukan bakteri penyebab pes beserta vektor dan reservoirnya, seperti pinjal dan tikus, di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.
Dengan kondisi tersebut, perkembangan situasi di Rusia tetap perlu dipantau. Masyarakat juga diimbau tidak panik, tetapi tetap memperhatikan informasi resmi dari otoritas kesehatan.
“Kita perlu pantau dengan ketat tentang apa yang terjadi di Rusia ini, dan kita juga harus terus berhati-hati tentang kemungkinan pes di negara kita,” ujar Prof Tjandra.
Hingga saat ini, dugaan bahwa kematian pekerja laboratorium di Irkutsk berkaitan dengan penyakit pes masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Pemeriksaan laboratorium dan informasi resmi dari otoritas kesehatan menjadi penentu untuk memastikan penyebab kasus tersebut.(dhil/dtk)










